Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2022

Merdeka Belajar, Kodrat Alam dan Zaman

  Merdeka Belajar: Kodrat Alam dan Zaman Oleh Nasrullah Syarif "Didiklah anakmu sesuai zamannya (Ali bin Abi Tholib)" Merdeka Belajar yang dianut dalam Kurikulum Merdeka berpedoman pada   nilai-nilai  filosofi pendidikan yang dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) di lingkungan Taman Siswa. Menurut beliau,   Anak lahir dengan membawa kodratnya masing-masing. Oleh sebab itu, dalam proses Pendidikan mereka diibaratkan bibit jagung, dan guru adalah petaninya. Agar tumbuh subur maka bibit harus ditanam di tanah yang subur, di bawah sinar matahari yang cukup dan diberi pupuk dan dirawat yang baik. Tugas guru diibaratkan sebagai petani, dia merawat tanaman dengan sepenuh hati dan cinta kasih. Terkait tumbuh kembang anak, masih menurut KHD, ada dua hal yang menjadi perhatian bagi seorang pendidik, yaitu kodrat alam dan kodrat zaman: - KODRAT ALAM, adalah nature yang menjadi basis visi Pendidikan anak, bahwa anak tumbuh kembang banyak dipengaruhi oleh lingkung...

Student's Wellbeing

 Student’s Wellbeing dalam  Merdeka Belajar Oleh Nasrullah Syarif Seorang pakar psikologi humanistik Carl Rogers mengatakan bahwa dalam mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) anak-anak memerlukan suasana yang damai agar mereka bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka secara optimal. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa guru disarankan untuk mengampu KBM yang menyenangkan bagi anak, dengan pengkondisian kelas sesuai kodrat mereka yang berbeda-beda. Hal ini dikenal dengan Merdeka Belajar. Salah satu point penting yang mengemuka dalam Program Merdeka Belajar adalah student’s wellbeing. Guru diharapkan bisa menghadirkan pembelajaran yang berbasis pada siswa (bottom up), agar melahirkan suasana yang damai dan menyenangkan. Berbeda dengan KBM saat ini yang bersifat top-down, guru menyampaikan materi untuk menuntaskan tugas yang diembannya, bukan berdasarkan pada kebutuhan belajar murid. Ide Merdeka Belajar ini berangka...

Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum Merdeka

 PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DALAM KURIKULUM MERDEKA By Nasrullah Syarif Dalam implementasinya, Pembelajaran Bahasa Inggris selama ini, kita mengenal four-integrated skills. Yaitu pengintegrasian ke-empat keterampilan berbahasa: LISTENING, SPEAKING, READING dan WRITING dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Namun pada Kurikulum Merdeka, keempat skill tersebut dielaborasi menjadi enam: - MENYIMAK: mendengarkan input Bahasa Target  dari media yg berbentuk AUDIO - MEMIRSA: mendengarkan dan memahami input Bahasa Target dari media AUDIO-VISUAL (multi media) - MEMBACA: membaca dan memahami text - BERBICARA: mempraktekkan (PRACTICING) Bahasa Target - MENULIS: Menulis (berlatih dan memproduksi) text Bahasa Target - PRESENTASI: Mempresentasikan (dalam tahapan) memproduksi (PRODUCING) Bahasa Target.....

Hukuman dan Konsekuensi

 HUKUMAN VS KONSEKUENSI Oleh Nasrullah Syarif  Merdeka Belajar: salah satu hal penting yang perlu dibangun di sekolah adalah BUDAYA POSITIF, dulu istilahnya kultur sekolah. Kultur sekolah ditumbuhkan setidaknya melalui 3 cara: PEMBIASAAN, di mana anak2 dibiasakan dengan kegiatan2 positif untuk menumbuhkan kebiasaan yang kelak diharapkan menjadi kultur, misalnya: gerakan imtaq, gerakan kebersihan, gerakan literasi, disiplin belajar dll. KETELADANAN, untuk menumbuhkan budaya positif pada anak2 tidak cukup dengan pembiasaan saja, tetapi harus ada keteladan dari orang dewasa di sekitarnya. Misal, sebelum guru melarang anak merokok, dia harus berhenti merokok (setidaknya di depan mereka). PENEGAKAN ATURAN SEKOLAH, di mana sekolah membuat rujukan yang dipedomani oleh anak-anak, yaitu buku saku yang berisi ATURAN2 SEKOLAH dan bentuk HUKUMAN kalau dilanggar.  Namun, dalam kurikulum merdeka pendekatannya berbeda, HUKUMAN diganti KONSEKUENSI. Apa bedanya? HUKUMAN: yaitu pemberian t...