Merdeka Belajar, Kodrat Alam dan Zaman
Merdeka Belajar: Kodrat Alam dan
Zaman
Oleh
Nasrullah Syarif
"Didiklah anakmu sesuai
zamannya (Ali bin Abi Tholib)"
Merdeka Belajar yang dianut dalam Kurikulum Merdeka berpedoman
pada nilai-nilai filosofi pendidikan yang
dipelopori oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) di lingkungan Taman Siswa. Menurut
beliau, Anak lahir dengan membawa
kodratnya masing-masing. Oleh sebab itu, dalam proses Pendidikan mereka
diibaratkan bibit jagung, dan guru adalah petaninya. Agar tumbuh subur maka
bibit harus ditanam di tanah yang subur, di bawah sinar matahari yang cukup dan
diberi pupuk dan dirawat yang baik. Tugas guru diibaratkan sebagai petani, dia
merawat tanaman dengan sepenuh hati dan cinta kasih.
Terkait tumbuh kembang anak, masih
menurut KHD, ada dua hal yang menjadi perhatian bagi seorang pendidik, yaitu
kodrat alam dan kodrat zaman:
- KODRAT ALAM, adalah nature yang
menjadi basis visi Pendidikan anak, bahwa anak tumbuh kembang banyak
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Kodrat alam terdiri dua, yaitu kultural dan
lingkungan alam.
Lingkungan kultural: bahwa mereka
tumbuh kembang dalam lingkungan sosial, budaya, dan seni yang ada di
sekitarnya. Oleh sebab itu, orang tua maupun pendidik harus mengkondisikan
lingkungan yang baik dan nyaman bagi tumbuh kembang anak-anak, karena sangat
berdampak bagi perkembangan kognitif, psikomotor dan afektif mereka selanjutnya. Kalau anak hidup dalam
lingkungan kiyai, mereka akan belajar mengaji. Demikian kalau mereka hidup
dekat dengan para "pencuri" maka dia akan merasa tidak bersalah
mengambil barang tanpa hak.
Lingkungan alam: Anak-anak yang
hidup di lingkungan Indonesia Timur dengan beraneka ragam ciri khas alamnya,
tidak bisa dipaksa untuk mengalami proses tumbuh kembang menurut atmosfir
Indonesia bagian Barat, demikian sebaliknya. Kalau anak dibesarkan dalam
lingkungan yang dekat sungai, maka dia akan banyak belajar berenang.
- KODRAT ZAMAN, yaitu konteks
anak mendapatkan hak untuk tumbuh kembang sesuai tuntunan era dia hidup. Mereka
yang hidup di abad 21 harus dibekali dengan pembelajaran untuk kecakapan dunia
digital. Anak yang terbiasa hidup dalam dunia TIK TOK tidak bisa dikomparasi
dengan orang tuanya yang hidup di zaman PERMAINAN PETAK UMPET.
Jadi, seorang guru, dalam
melakukan treatment atau memperlakukan anak dalam lingkungan belajar di sekolah
mesti CONCERN dengan dua hal di atas..... Wallahu a'lam bish showab.....
Komentar
Posting Komentar