Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Merdeka Belajar; Student's Wellbeing

Student’s Wellbeing dalam  Merdeka Belajar Oleh Nasrullah Syarif Seorang pakar psikologi humanistik Carl Rogers mengatakan bahwa dalam mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) anak-anak memerlukan suasana yang damai agar mereka bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka secara optimal. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa guru disarankan untuk mengampu KBM yang menyenangkan bagi anak, dengan pengkondisian kelas sesuai kodrat mereka yang berbeda-beda. Hal ini dikenal dengan Merdeka Belajar. Salah satu point penting yang mengemuka dalam Program Merdeka Belajar adalah student’s wellbeing. Guru diharapkan bisa menghadirkan pembelajaran yang berbasis pada siswa (bottom up), agar melahirkan suasana yang damai dan menyenangkan. Berbeda dengan KBM saat ini yang bersifat top-down, guru menyampaikan materi untuk menuntaskan tugas yang diembannya, bukan berdasarkan pada kebutuhan belajar murid. Ide Merdeka Belajar ini berangkat dari...

Guru Penggerak, Merdeka Belajar

 Merdeka Belajar, Transformasi Pendidikan dan Guru Penggerak Oleh H. Nasrullah, M.Pd. Tiga istilah di atas akan menghiasi dunia pendidikan kita sampai beberapa tahun mendatang. Apakah makna dari masing-masing istilah tersebut? ~ Merdeka Belajar Merdeka belajar merupakan terobosan baru Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Teknologi yang diadopsi dari pandangan-pandangan tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD). Menurut KHD anak-anak mestinya belajar berbasis pada kodrat mereka sebagai manusia yang merdeka, bukan karena pemaksaan dan penyeragaman dari pihak manapun. Anak-anak memiliki sifat kondrati yang mesti dihormati, misalnya: bakat, minat, kesenangan, keunikan karakteristik dan lain-lain yang membedakannya dari individu lain. Nah, “belajar” bagi mereka mesti mempertimbangkan karunia Tuhan berupa kodrat yang mereka miliki. Ibaratnya, ikan tidak bisa dipaksa untuk belajar memanjat sedangkan kucing tidak bisa dipaksa untuk belajar menyelam, karena itu bukan kodrat mereka. Demikia...

Pembelajaran Berdiferensiasi

 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh Nasrullah Syarif Salah satu topik yang mengemuka dalam Kurikulum Merdeka adalah Pembelajaran Berdiferensiasi (PB). PB  diadopsi dari pemikiran filosofis Ki Hajar Dewatara (KHD). Menurut KHD anak lahir membawa kodratnya masing-masing yang berbeda satu sama lain.  Model pembelajaran saat ini, lebih bersifat top down dari guru ke siswa. Guru mengejar target ketuntasan materi, sehingga membebani siswa dengan tugas, pekerjaan rumah dan lain-lain yang memberatkan siswa. Namun, PB bersifat bottom up, yaitu menganut pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang mengakomodir kebutuhan siswa yang berbeda beda, dengan menekankan pada student’s wellbeing (kesenangan belajar siswa). PB berpedoman pada 3 (tiga) aspek:  1. kesiapan belajar (READINESS FOR LEARNING), ada siswa yang memiliki kesiapan belajar rendah (slow learners), sedang (average) dan tinggi (quick learners). Semuanya itu harus diakomodasi oleh guru, tanpa diskriminasi. 2. minat b...