Merdeka Belajar; Student's Wellbeing

Student’s Wellbeing dalam  Merdeka Belajar


Oleh Nasrullah Syarif


Seorang pakar psikologi humanistik Carl Rogers mengatakan bahwa dalam mengikuti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) anak-anak memerlukan suasana yang damai agar mereka bisa mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka secara optimal. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara (KHD) bahwa guru disarankan untuk mengampu KBM yang menyenangkan bagi anak, dengan pengkondisian kelas sesuai kodrat mereka yang berbeda-beda. Hal ini dikenal dengan Merdeka Belajar.

Salah satu point penting yang mengemuka dalam Program Merdeka Belajar adalah student’s wellbeing. Guru diharapkan bisa menghadirkan pembelajaran yang berbasis pada siswa (bottom up), agar melahirkan suasana yang damai dan menyenangkan. Berbeda dengan KBM saat ini yang bersifat top-down, guru menyampaikan materi untuk menuntaskan tugas yang diembannya, bukan berdasarkan pada kebutuhan belajar murid.

Ide Merdeka Belajar ini berangkat dari keprihatinan bahwa daya saing generasi muda Indonesia yang masih rendah di kancah global. Menurut Data Lembaga Survey Internasional, Pisa, dalam Matematika dan Sains, daya saing Kita rendah sekali. Menurut disurvey Pisa 2018, Indonesia menempati urutan 74 dari 79 negara yang disurvey. 

Dalam Kurikulum Merdeka, guru diharapkan merancang KBM yang mengarah pada “Student’s Wellbeing” dengan stressing pada aspek-aspek berikut ini:

POSITIVITY, yaitu kondisi siswa yang selalu berpikir positif, percaya diri, dalam mengikuti proses KBM, dan tidak minder menerima hasil belajar mereka.

RESILIENCE (Tangguh), diharapkan guru mampu menciptakan proses KBM yang menyenangkan dan berkualitas, dan outcome-nya akan mencetak generasi bangsa yang tangguh di kemudian hari.

OPTIMISTIC, guru harus memerdekakan murid dari rasa rendah diri, agar outcome belajar nantinya melahirkan generasi bangsa yang selalu percaya diri dalam menghadapi keadaan.

SATISFACTION, bahwa guru mampu menciptakan suasana KBM yang menyenangkan bagi siswa (joyful learning). Output KBM mestinya memuas bagi semua peserta didik.

Dihimpun dari berbagai sumber…. Wallahu a’lam bish showab…..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERI PEMBELAJARAN MENDALAM: FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

Pembelajaran Mendalam: Fusi Model Lama dengan yang Baru