Pembelajaran Berdiferensiasi
PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Oleh
Nasrullah Syarif
Salah satu topik yang mengemuka dalam Kurikulum Merdeka adalah Pembelajaran Berdiferensiasi (PB). PB diadopsi dari pemikiran filosofis Ki Hajar Dewatara (KHD). Menurut KHD anak lahir membawa kodratnya masing-masing yang berbeda satu sama lain.
Model pembelajaran saat ini, lebih bersifat top down dari guru ke siswa. Guru mengejar target ketuntasan materi, sehingga membebani siswa dengan tugas, pekerjaan rumah dan lain-lain yang memberatkan siswa. Namun, PB bersifat bottom up, yaitu menganut pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang mengakomodir kebutuhan siswa yang berbeda beda, dengan menekankan pada student’s wellbeing (kesenangan belajar siswa).
PB berpedoman pada 3 (tiga) aspek:
1. kesiapan belajar (READINESS FOR LEARNING), ada siswa yang memiliki kesiapan belajar rendah (slow learners), sedang (average) dan tinggi (quick learners). Semuanya itu harus diakomodasi oleh guru, tanpa diskriminasi.
2. minat belajar (LEARNING INTEREST), bahwa siswa memiliki minat dan bakat berbeda-beda. Ada siswa yang tertarik pada bidang sains, sastra, seni dan lain-lain.
3. profil belajar (LEARNING CHARACTERISTICS), yaitu karakter atau gaya belajar siswa yang berbeda-beda: ada siswa yang bergaya kinestetik, visual, auditory dan lain-lain.
Sebelum memulai KBM, guru memanfaatkan satu atau dua pekan untuk melakukan diagnostic assessment, yakni untuk pemetaan kebutuhan belajar siswa yang berbedaan-perbedaan tadi. Teknisnya, guru bisa melakukan dengan wawancara, observasi, atau survey dengan angket. Untuk olah data, guru bisa bekerja sama dengan Guru BK, atau pihak yang berkompeten dalam hal itu.
Dengan demikian, instrument evaluasi belajar juga harus bervariasi, karena hasil belajar tidak semata-mata mengukur ranah kognitif saja. Guru harus mulai memberlakukan pembelajaran berbasis projek, (misalnya: Proyek Profil Pancasila). Hasil belajar siswa dari ptojek tadi bisa bermacam variasinya, ada video, karangan atau tulisan, presentasi role play, drama, porto folio dan lain-lain, yang bobotnya 30 persen dari keseluruhan hasil evaluasi. (disarikan dari berbagai sumber)
Wallahu a’lam.
Komentar
Posting Komentar