Cerpen Nilai Karakter "Penghianatan"
Penghianatan
(Cerpen tentang Nilai Karakter)*
Oleh: H. Nasrullah Syarif **
Dahulu kala di kaki gunung Lambitu Bima berdiri sebuah kampung kecil bernama Desa Runggu. Masyarakat Desa Runggu hidup aman, damai dan sejahtera. Mereka adalah penganut Islam yang taat. Mereka memegang teguh ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an & Al-Hadits. Sebagaimana masyarakat Indonesia pada umumnya, mereka juga menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran, yang dewasa ini dikenal dengan nilai moral Pancasila. Mereka telah mengimplementasikannya secara turun-temurun ajaran Islam dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak ada sedikitpun mereka pertentangkan kedua hal itu.
Di sebuah sudut kampung, di bawah naungan pohon asam yang rindang, persisnya di lereng gunung Lambitu itu berdiri dua buah rumah sederhana. Di situ hiduplah dua orang bertetangga yang bernama Amaq (Bapak) Karevo dan Amaq (Bapak) Katebo. Amaq Karevo, biasa dipanggil demikian karena memiliki anak yang bernama Karevo. Dan, tetangga sebelahnya dipanggil Amaq Katebo, karena anak pertamanya bernama Katebo.
Katebo dan Karevo adalah dua orang pemuda desa yang terlahir dalam keadaan cacat. Karevo terlahir buta dan Katebo terlahir pincang. Karevo, walaupun buta, sangat mahir berenang dan Katebo sangat jago memanjat, walau terlahir pincang.
Praktek nyata nilai-nilai Pancasila dicontohkan oleh dua sahabat itu. Mereka dikenal oleh masyarakat desa sebagai dua orang sahabat yang selalu bekerja sama. Mereka selalu bahu-membahu dalam suka maupun duka. Di mana ada Karevo di situ ada Katebo. Mereka selalu bepergian bersama dan juga saling membantu satu sama lain dalam memecahkan masalah. Katebo selalu membimbing sahabatnya yang buta itu dengan memegang tangannya ketika mereka bepergian. Pada suatu hari ketika terjadi banjir besar, Karevo yang jago renang menggandeng tangan Katebo yang kesulitan menyeberangi sungai.
Tolong menolong sebagai mana dianjurkan dalam ajaran Islam mereka teladani dengan baik. Mereka dikenal luas oleh masyarakat kampung karena kekompakan dan kemahiran mereka. Walaupun hidup dengan fisik yang tidak sempurna, mereka sangat berjasa membantu warga desa. Katebo sering diminta tolong oleh warga desa untuk memanjat pohon mangga dan kelapa. Karevo sering membantu warga mengangkut hasil pertanian menyeberangi sungai.
Setiap musim hujan tiba, sering terjadi banjir besar di sungai di kaki Gunung Lambitu itu. Pemuda-pemuda Kampung yang kerkenal dengan keberaniannya memanfaatkan momen tersebut untuk mengadakan lomba renang. Karevo selalu ambil bagian dalam lomba tersebut. Walau kakinya pincang, dia selalu pulang membawa tropi kemenangan. Demikian juga dengan Katebo, dia sering menjuarai lomba panjat pinang yang diadakan warga kampung saat memperingati Hari Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sebagaimana warga desa yang lain, kedua keluarga Karevo dan Katebo sudah terbiasa dalam kebersamaan. Ketika ada kelebihan makanan di rumah tetangga yang satu, tetangga yang lain ikut menikmatinya. Keceriaan dan Kedukaan mereka lalui bersama. Ketika musim tanam tiba mereka saling weha rima (saling membantu). Begitu juga ketika musim panen tiba mereka saling membagi.
Pada suatu pagi, Karevo datang ke Rumah Katebo.
“Assalamu ‘alaikum..... inaq (ibu)....ada Katebo?”
“Ada... tunggu ya...” sahut Inaq Katebo di dapur.
Pagi itu Katebo baru saja memberi makan ternak di belakang rumahnya. Tidak lama kemudian, dia keluar menemui sohibnya yang telah menunggu di sarangge (berugaq) di depan rumahnya.
“Ada gerangan apa... kok pagi-pagi sekali datang?” tanya Katebo.
“Gini Bo...., kata Amaq saya.... pisang di kebun itu sudah matang.” Jawab Karevo.
“Trus... kamu mau ajak saya pesta makan pisang?” Pancing Katebo.
“Ya... saya mau ajak kamu pergi panen pisang.” Lanjut Karevo.
“Ide yang bagus itu...” Sambung Katebo.
“Gimana kalau kita ke sana siang ini?” tanya Karevo.
“Maaf bro....saya masih sibuk membantu Amaq saya mencari pakan kerbau.” Jawab Katebo.
“Kalau besok.... gimana?” Sambung Karevo.
“Besok siang ya...” Jawab Katebo meyakinkan.
“Baiklah....” Jawab Karevo mengakhiri perbincangan pagi itu.
Walaupun sedikit kecewa, Karevopun pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah dia menceritakan kepada Inaq-nya kalau besok pagi dia akan pergi panen pisang di kebun bersama Katebo.
Esok harinya, mereka berangkat ke kebun pisang pagi-pagi sekali. Karevo tidak lupa menyiapkan alat sekedarnya untuk mengangkut buah pisang yang akan mereka panen nanti. Untuk sampai di kebun pisang itu, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, dan untuk bisa masuk ke dalam kebun mereka perlu bekerja sama. Kebun itu terletak di pinggir sungai. Pada saat itu, air sangat deras karena sedang banjir. Katebo harus meminta pertolongan Karevo untuk menyeberangi sungai itu. Setelah sampai di seberang, giliran Karevo yang meminta bantuan Katebo memanjat tebing untuk masuk ke dalam kebun.
Sesampai di kebun, Katebo membimbing Karevo mencari buah pisang yang matang.
“Mari ke sini Vo....ada pisang susu yang sudah matang itu...besar-besar lagi.”
“Pisang susunya nanti kita bawa pulang saja. Sekarang kita cari dulu yang bisa kita nikmati di sini.” Sahut Karevo.
“Baiklah....kita coba ke arah sana.” Ajak Katebo.
Setelah beberapa meter ke utara, Katebo menengok ke atas. Dia melihat pisang kepok yang sudah sangat matang, siap panen. Dia menarik tangan Karevo.
“Vo... di atas itu ada pisang kepok yang sudah matang. Saya naik...ya?”
“Ok, baiklah...hati-hati, ya.”
“Jangan khawatir...bro. Saya ini kan jago manjat....” Jawab Katebo sedikit menyombongkan diri.
“Kamu siap-siap di bawah, ya.” Sambung Katebo.
Dengan cekatan, Katebo memanjat pohon pisang yang cukup tinggi itu. Di atas sana, dia mulai memetik beberapa buah pisang yang dia sukai. Dia memilih beberapa buah yang besar, lalu dicicipnya. Tanpa terasa, beberapa buah telah dia makan.
“Hmm... manis sekali...” Gumannya dalam hati.
Pada saat itu, bisikan Iblis mulai menggodanya.
“Bo.... makan abis aja pisang yang lezat itu....ngapain kamu sisain.” Bisikan masuk ke telinga kirinya.
“Sudah dapat buah pisangnya....?” Tanya Karevo membuyarkan bisikan di telinganya.
“Bebe...belum.” Jawabnya terbata-bata menutupi kesalahan.
Katebo makin asyik menikmati buah pisang yang sudah matang dan manis itu.
“Lanjut terus...bro...abisin...” Iblis melanjutkan bisikan di telinga kanannya.
Katebo makin asyik melahap buah pisang di atas pohonnya.
“Kok lama sih....” Teriak Karevo, tak bisa menahan sabar.
“Sabar...tunggu sebentar lagi.”
Lama-lama satu tandan habis dia santap, dan dia semakin rakus menikmati pisang itu sendirian di atas. Karena kerasukan Iblis, dia tidak memikirkan lagi sahabatnya yang telah menunggu di bawah dari tadi.
“Bo....mana pisangnya....”
“Sekarang bentangkan sarungmu lebar-lebar, Vo....”
Karevo, dengan lugunya, membentangkan sarung yang telah dipersiapkannya dari tadi. Dari atas pohon pisang itu, Katebo tanpa merasa bersalah mengambil ancang-ancang. Dan.... keluarlah bunyi “Brrrrrr.....”
“Kok buah pisangnya mengeluarkan aroma tak sedap, sih....” tanya Karevo dengan polos. Kemudian, tangannya meraba-raba ke tengah bentangan sarungnya. Akhirnya sekarang dia sadar, dan paham dengan perbuatan sahabatnya. Dia merasa telah “dikerjai” oleh sabahatnya. Betapa sakit hatinya mendapat perlakuan seperti itu. Sementara itu, tanpa meresa bersalah Katebo tertawa terbahak-bahak di atas pohon pisang itu.
“Baiklah.... Persaudaraan kita berakhir di sini.” Teriak Karevo pulang meninggalkan Katebo yang masih sendirian di atas pohon pisang. Dia pulang dengan hati terluka karena dikhianati sahabatnya sendiri.
Pada saat itu, banjir semakin besar. Air bah mengalir masuk ke kebun pisang, makin lama semakin tinggi. Karena senja sudah tiba, masyarakat desa sudah pulang ke rumah masing-masing. Di kebun pisang itu tinggallah Katebo seorang diri. Dia gagal menyeberangi sungai dan akhirnya mati tenggelam, dan terbawa arus sungai.
Demikian hukuman untuk seorang yang tidak bisa menjaga kesetiaannya. Penghianat akan menerima balasan yang setimpal (betrayer is paid off) baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana sabda Rasulullah, penghianat akan mendapatkan tanda (bendera sebagai penghianat) di akhirat nanti (HR Ibnu Umar).
*) Cerita yang sering disampaikan sebagai ice-breaker, 10 menit sebelum memulai Kegiatan Belajar Mengajar, bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa.
**) Pengajar dan Penulis di Kota Mataram
Komentar
Posting Komentar