Cerpen Pendidikan Keluarga "Quota Bicara"

 Mesin Quota Bicara

Oleh H. Nasrullah Syarif

Pak Amru dan Bu Amru adalah sebuah contoh keluarga ideal di Mataram karena keluarga ini menjadi rujukan keberhasilan pendidikan keluarga. Mereka memiliki empat orang putri. Mereka adalah putri-putri  yang cerdas. Putri pertama yang bernama Ani adalah salah seorang alumni terbaik di salah satu SMA favorit di Kota Mataram. Tidak mengherankan, dia dengan mudah diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Sari, putri kedua tidak kalah berprestasi di sekolahnya. Sejak dari Sekolah Dasar, dia selalu meraih rangking pertama di kelas. Bahkan ketika duduk di bangku SMP dia menjadi lulusan dengan Nilai UN terbaik. Di SMA dia mewakili propinsi NTB mengikuti Olimpiade Kimia Tingkat Nasional. Mimi, puteri ke tiga adalah seorang jago pidato. Dia sering dipercaya menjadi MC di sekolahnya, salah satu SMP favorit di Mataram. Dia sering memenangkan lomba-lomba, antara lain juara 1 Olimpiade IPS tingkat Propinsi NTB. Dia juga pernah meraih medali perak dalam Lomba Penelitian Siswa (LPSN) tingkat Nasonal. Tini, puteri terakhir adalah seorang jago memasak. Dia selalu mendampingi mamanya memasak.

Mendidik putri-putri cerdas ternyata menjadi tantangan berat bagi keluarga Amru. Anak-anak tumbuh menjadi gadis-gadis yang kokoh pada pendirian masing-masing, tidak mau mengalah, dan suka bertengkar mempertahankan pendapatnya. Pak Amru merasa kurang nyaman dengan tingkah empat orang putrinya yang tidak habis-habisnya bertengkar. Bu Amru juga sering mengeluh “Saya malu sama tetangga Pak, anak-anak ini bertengkar saja kerjaannya, ndak pagi, ndak siang, dan ndak malam. Asal ketemu, mereka suka memperdebatkan sesuatu, walaupun hal-hal sepele,” keluh Bu Amru.

Selesai bertengkar mereka cepat akur kembali selayaknya saudara yang tidak memendam dendang satu sama lain. Tetapi “kedamaian” yang diharapkan kedua orang tuanya tidak juga hadir di rumah itu. Ada saja yang mereka ributkan. Kadang mereka membicarakan masalah dengan teman-temannya di sekolah, drama Korea yang baru saja mereka tonton, kurangnya uang saku yang dikasih mama dan sebagainya.

Pak Amru tidak tahan dengan tingkah empat orang putrinya yang tidak pernah putus-putusnya berdebat. Pada suatu hari dia berpikir, “seandainya anak-anak di rumah ini dibuatkan saja quota bicara.” Gumannya dalam hati. “sama seperti quota internet, siapa yang quotanya habis maka hak bicaranya habis.” Pikirnya. Pak Amru yang notabene adalah seorang Insinyur Elektro, mulai berpikir serius menciptakan alat pengatur quota bicara.

Seandainya anak-anak ini dipasangkan alat yang secara otomatis membatasi hak bicara mereka, kalau mereka berbicara sudah hampir melampaui quota, maka alat itu akan memberi isyarat. “Hi….. Quotamu tinggal 10 byte.” Maka dengan sendirinya “pemilik mesin” akan berhenti berbicara. Jadi, prinsip kerjanya hampir sama dengan tweeter. Kalau cuitan  kita sudah hampir habis “quota” maka akan di-highlight merah, dan kalau “quota” sudah melampaui akan diberi tanda minus. Demikian khayalan Pak Amru suatu sore hari selesai mendengar celotehan ke empat putrinya, di beranda depan rumahnya yang asri. Kopi manis buatan bu Amru sampai terasa dingin karena beliau larut dalam khayalan.

Pada suatu malam, Pak Amru menyampaikan rencananya kepada istrinya. “Ma….gimana kalau kita pasangkan alat quota bicara pada anak-anak ini….lelah saya dengar mereka bicara tidak putus-putusnya.” Ucap Pak Amru membuka diskusi. “Maksud papa?” Tanya Bu Amru mengharap penjelasan. “Maksudnya begini ma….alat itu membatasi mereka bicara. Setelah quotanya habis maka mereka tidak bisa bicara lagi.” Jelas pak Amru. “Mama setuju banget pak…dan kita kumpulkan anak-anak untuk membahas hal ini.” Jawab Bu Amru.

Ketika hal ini disampaikan kepada anak-anak mereka tentu saja awalnya keberatan. “Gimana dong… saya sedang banyak konsultasi dengan dosen pembimbing,” protes Ani. “Saya juga… lagi banyak presentasi nih, Sari memberi alasan. “Saya juga…sebentar lagi saya jadi MC di sekolah,” protes Mimi tak mau kalah. Namun setelah dijelaskan maksud dan tujuannya, mereka akhirnya setuju untuk melakukan uji coba. Pak Amru menawarkan untuk uji coba satu bulan.

Di kantornya, Pak Amru berkolaborasi dengan koleganya merancang Mesin Quota Bicara (atau dalam Bahasa Inggris: Speaking Quota Appliance). Setelah alat itu jadi, maka dipasangkanlah di punggung mereka. Alatnya cukup tipis, sehingga tidak tampak dari luar dan tidak mengganggu penampilan mereka.

Pada awalnya, Si Ani, putri tertua tidak merasa terlalu bermasalah dengan uji coba ini, karena dia sedang tidak ada kuliah. Dia pergi ke kampus hanya untuk ngobrol dengan teman-temannya. Quotanya habis menjelang magrib, sehingga dia tidak bisa lagi berdiskusi dengan teman-temannya setelah magrib. Terpaksa handphonenya di-non-aktifkan. Lama-lama dia mulai resah dengan keadaanya. Dia tidak leluasa berbincang dengan teman-temannya tentang masalah kampusnya. Teman-temannya juga sering mengeluhkan hal ini. Pada suatu hari Qisti mengeluh “Ani….kenapa kok kamu ini sulit sekali dihubungi kalau udah malem?” “Maaf Qis…saya…ehmm….sibuk mengaji,” elaknya mencari alasan. “Mengaji….? Jam 10 malampun masih mengaji….?” Tanya Qisti menyelidik.

Masalah lebih serius dialami Sari, putri Pak Amru yang ke dua. Baru jam 13:00 quota bicaranya sudah habis. Teman-teman kampusnya mentertawakannya karena dia dianggap bisu. Pada suatu hari Sari baru saja maju presentasi di kampusnya. Begitu selesai presentasi, mesin quota bicaranya berbisik “Quotamu tinggal 20 byte.” Wah…brabe ini pikir Sari, karena dia masih harus menjawab beberapa pertanyaan dosennya setelah ini. Untung saja dia lancar menjawab semua pertanyaan dosennya. Namun, masalah timbul setelah itu. Dia tidak bisa lagi bersenda gurau dengan teman-temannya. “Sari….kenapa sih kamu ini….? Kok diam saja?” Tanya Ruth penasaran dengan sikap diamnya Sari.

Sesampai di rumah Sari ngamuk-ngamuk pada papa mamanya. Dia ingin berteriak, tetapi suaranya ndak bisa keluar lagi karena quota bicaranya habis. “Ada apa kamu Sari?” Tanya mama. Melihat Sari tidak mengeluarkan kata-kata, Bu Amru sambil menahan ketawa menyuruh anaknya menuliskan apa yang ingin dia katakan. “Tuliskan apa masalah, Ri.” “Saya malu….saya dibilang aneh sama teman-teman.” Tulisnya. “Sabar dulu, nanti  kita tunggu papa pulang kantor.” Jawab Bu Amru menenangkan Putrinya.

Nasib Mimi, Putri ke tiga lebih parah dari kakaknya. Dia adalah anak yang paling cerewet dalam keluarga itu. Tidak heran, pukul 11 quota bicaranya telah habis. Tadi pagi pelajaran kosong di sekolah karena guru sedang rapat. Dia ngobrol ngalur ngidul dengan teman-teman sekelasnya di kantin sekolah. Dia tidak sadar telah menghabiskan quotanya lebih awal. “Mi…quotamu tinggal 5 byte.” Mesinnya mengingatkan. “Wah bencana ini,” pikirnya.

Di kantor, Pak Amru gelisah, dia tak sabar ingin segera pulang. Dia ingin mengetahui bagaimana hasil uji coba mesin quota bicara yang dia pasang di punggung anak-anaknya. “Apakah bekerja efektif? Atau menimbulkan masalah?” pikirnya.

Setiba di rumah, Pak Amru merasakan ada keanehan dari sikap mereka. Mereka protes keras karena alat tersebut menjadi beban dan mengganggu pergaulan mereka. Karena masih masa uji coba, maka Pak Amru memutuskan untuk mengevaluasi kembali alat tersebut. “Mungkin perlu ditambah quotanya,” pikirnya. Dari hasil evaluasi, Pak Amru menyarankan mereka untuk mengatur quota bicaranya. “sekarang quota kalian telah saya tambah. Bicara untuk hal-hal yang perlu saja,” nasehatnya untuk anak-anaknya.

Lama-lama, anak-anak mulai menemukan formula untuk mengamankan quota bicara mereka. Ani mulai irit bicara, dia lebih fokus untuk mempersiapkan ujian KTI-nya. Demikian juga dengan Sari, dia mulai membiasakan diri untuk fokus dengan tugas-tugas kampusnya. Mimi yang biasa outspoken di sekolahnya mulai beralih kebiasaan. Apa-apa yang ingin dia katakan ditulisnya pada buku diarinya. Tini, yang memang tidak banyak bicara, fokus mengolah bermacam-macam menu masakan kesukaannya.

Sebulan masa uji coba berlalu. Ternyata hasilnya cukup memuaskan Bapak-Ibu Amru. Tidak ada lagi pertengkaran di antara anak-anak. Setiba di rumah, mereka fokus pada urusan masing-masing. Sekali-sekali mereka bersenda gurau. Tetapi tidak berlebihan agar tidak menghabiskan quota bicara mereka. Bapak-Ibu Amru sangat senang karena segala sesuatunya berjalan lancar. Sebagai hadiah, sekali-sekali mereka diajak makan-makan di luar, dan nonton bareng di bioskop XXI atau Cinemaplexx sebagai refreshing, untuk mengurangi beban kerja mereka.

Ani, akhirnya berhasil menyelesaikan study kedokterannya dengan gemilang. Dia berhasil meraih yudisium dengan predikat cum laude. Selesai program co-as dan internship dia mendapat rekomendasi specialist dan  mendapat beasiswa dari kampusnya. Sesuai cita-citanya, dia melanjutkan study dengan mengambil specialist jantung di Universitas Airlangga Surabaya.

Sari pun demikian, dia menjadi wisudawan terbaik di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram. Setelah selesai mengikuti program internship dia mengikuti program ADS (Australian Development Scholarship). Alhamdulillah, dia bisa melanjutkan study kedokterannya di Sydney University Australia. Dia berharap sepulang dari study di Australia, dia ingin melamar menjadi dosen di almamaternya, FK-Unram.

Prestasi gemilang juga diraih oleh Mimi. Dia berhasil menyelesaikan study di SMAN 1 Mataram sebagai the best. Diapun melanjutkan studynya di jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Dia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi duta besar dan berkeliling dunia. Untuk itu, harus mahir beberapa bahasa asing.

Tini, puteri  bungsu memilih melanjutkan study di bidang kuliner. Dia bercita-cita menjadi seorang chef. Untuk itu, dia belajar keras mempersiapkan diri agar bisa mendapatkan beasiswa study kuliner di Paris, Perancis. Di kawasan Mandalika sedang gencar di bangun hotel-hotel berbintang untuk menunjang ajang Motogp. Tentu saja lowongan untuk menjadi chef sangat terbuka, dia pikir.

Sepuluh tahun berlalu, sekarang putri-putri keluarga Amru sudah meraih cita-cita mereka. Putri pertama, Ani sekarang telah menjadi seorang dokter spesialis Jantung di Rumah Sakit Propinsi NTB. Sari, putri ke dua, berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang dosen di Fakultas Kedokteran di Universitas Mataram. Mimi, putri ke tiga sekarang sedang bertugas di Belanda, menjadi diplomat di KBRI Den Hag. Tini, putri terakhir menjadi  seorang chef kepala di Novotel Hotel. Dia bepergian ke berbagai Negara memperkenalkan kuliner Lombok.

Pak Amru tersenyum puas melihat keberhasilan ke-empat putrinya. “Pak….bangun-bangun sholat subuh,” teriak istrinya membuyarkan mimpinya. “Ternyata aku bermimpi,” sesal Pak Amru sambil bergegas mengambil air wudhu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERI PEMBELAJARAN MENDALAM: FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

Pembelajaran Mendalam: Fusi Model Lama dengan yang Baru