Cerpen Cinta antara Dua Benua

 

Cinta antara Dua Benua

Oleh: H. Nasrullah Syarif, M.Pd.

Aktivitas Warga Desa

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang gadis cantik di sebuah Desa Kecil di kaki Gunung Rinjani. Desa itu bernama Desa Sembalun. Gadis cantik yang cukup terkenal di seantoro Kampung kecil itu bernama Nia. Sebuah nama yang cukup sederhana dibandingkan dengan kecantikannya yang sempurna. Rambut hitamnya panjang terurai rapi, hidung mancung, bibirnya yang merah bak bunga mawar, dan kulitnya yang putih seperti salju. Sempurnalah kecantikannya. Tidak heran, dia menjadi buah bibir para pemuda desa dan banyak yang ingin mempersuntingnya.

Nia adalah gadis sederhana seperti warga desa lainnya. Setiap hari, waktunya banyak dihabiskannya dengan pekerjaan domestik di rumah dan di kali. Dia adalah gadis pemalu yang rajin. Dia selalu membantu ibunya di dapur. Setiap pagi dia tidak lupa memasak sarapan nasi goreng sederhana ala kampung, “Nasi goreng teri,” kesukaan Nia sekeluarga. Kemudian dia merapikan rumah dan menyapu halaman.

Setelah itu, dia pergi ke sebuah kali kecil dekat kampung. Di sana dia melakukan aktivitas rutin, layaknya perempuan kampung, seperti: mencuci, mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga, mandi dan bersenda gurau. Aktivitas tersebut rutin mereka lakukan setiap hari, mulai Ahad hingga Ahad berikutnya. Mereka menikmati aktivitas di pinggir kali kecil itu karena suasana di sekitar yang nyaman dan teduh. Air kali yang bermuara dari Gunung Rinjani tersebut cukup jernih dan segar, mengalir deras memanjakan tubuh yang berendam di dalamnya.

Pelancong dari Amerika

   Pagi itu, seperti biasa Nia bersama teman-temannya sedang asik bersenda gurau. Sambil membiarkan rambut panjangnya terurai mengikuti arus sungai, Nia menikmati ativitas di pagi yang cerah itu. Sekali-sekali teman-temannya menggoda dia, “Nia kapan dilamar sama Amat, anaknya Pak Kades itu?” Tanya Mina. Namun Nia tidak menghiraukan godaan tersebut, dia tetap asik dengan aktivitasnya.

  Tiba-tiba, tidak jauh dari kali itu anak-anak ribut, mereka berhamburan mendatangi seorang asing yang tiba-tiba muncul di Desa mereka. Dari postur tubuh, warna kulit dan penampilannya, jelas sekali dia bukanlah pemuda Sasak. Dia pasti berasal dari Eropa, Australia atau Amerika. Dia datang bersama seorang pemandu, pemuda Lombok yang mahir berbahasa Inggris. Mereka berdua ingin mendaki Gunung Rinjani untuk melihat dari dekat Danau Segara Anak yang terkenal. Saat itu mereka kelelahan dan ingin mencari tempat beristirahat sejenak sehingga akhirnya tibalah mereka di pinggir kali itu.

     Namun ketika pemuda Kulit Putih itu turun membasuh muka ke kali, betapa terkejutnya dia melihat seorang gadis cantik jelita tidak jauh dari tempat dia menginjakkan kaki. Lalu secara spontan dia berseru “Hi…beautiful girl…. I am Bill and what is your name? (Hai…gadis cantik… nama saya Bill dan siapa namamu?). Nia terkejut, sekujur tubuhnya menggigil, tumben seumur hidupnya dia disapa oleh orang asing seperti ini. Belum sempat Nia mengembalikan kondisi normalnya, datanglah teman Bill. Dia memperkenalkan diri: “Aranku Ali…ie batur aku leqan Amerika, arane Bill…” (nama saya Ali… dia teman aku yang berasal dari Amerika, namanya Bill). Dia terkesima dengan kecantikanmu dan dia ingin berkenalan, boleh kan?” Tanya Ali. “Ndeq kutaoq” (Ndak tahu aku) sahut Nia dalam kegugupan. Untuk mengalihkan kegugupannya dia, melanjutkan pekerjaan rutinnya: mopok (mencuci pakaian). Dia, kemudian pulang dan menceritakan pengalaman anehnya kepada orang tuanya.

Bill Jatuh Cinta pada Nia

    Satu bulan berlalu, Nia dan teman-temannya sudah hampir melupakan kejadian “aneh” itu. Tiba-tiba, mereka yang lagi asyik bersenda gurau di pinggir kali itu dikagetkan oleh teriakan seorang anak kecil “Araq turis…. leqan Amerika….” (ada orang turis …. datang dari Amerika). Setelah sebulan berlalu, Bill bersama Ali, sohibnya dari Desa Lendang Nangka yang mahir berbahasa Inggris itu, datang lagi ke Sembalun.

“Ali…I hope I can meet the beautiful girl I met around here last month.” Kata Bill (Ali saya harap bertemu gadis cantik yang kita temui bulan lalu itu). “Nia…you mean?” (yang namanya Nia itu maksudmu?) respon Ali. Tidak lama berselang, pucuk dicita…ulam pun tiba. Gadis yang baru saja mereka perbincangkan ternyata ada di depan mata mereka. Nia bersama temannya sedang bercanda ria, dan tidak sadar dengan kehadiran Bill dan Ali.

Hi…beautiful girl, can we introduce each other?” (Hai…gadis cantik boleh kita berkenalan?) Tanya Bill tidak bisa menahan diri. Nia pun merespon “Ndek kutaoq bebase Inggris….” (aku ndak bisa Bahasa Inggris). Lalu, Ali datang menetralisir suasana yang “tidak normal” ini. Dengan perantaraan Ali, mereka akhirnya berkenalan. Bill meresa senang, sementara Nia meresa deg-degan, jantungnya berdenyut kencang.

Setelah itu, Bill melanjutkan perjalanannya ke puncak Rinjani. Rupanya, dia mulai ketagihan berkunjung ke Danau Segara Anak. Sepanjang jalan Bill dan Ali memperbinjangkan Nia. “On what sort of world am I…? How come it happen a beautiful girl appeared in such a place? (Saya sedang berada di Bumi mana ini…? Bagaimana mungkin seorang gadis cantik muncul di tempat seperti ini?) Gumam Bill penuh tanda tanya. “Things happen in life, bro…” (apapun bisa terjadi, teman) sahut Ali menjawab kegalauan Bill.

Rupanya Bill sudah mulai menaruh hati pada Nia. Dia pun meminta Ali membantunya. Dia berharap bahwa Ali dapat membantunya untuk menjembatani kendala komunikasi di antara mereka. Dan, dia juga berharap Ali bisa meyakinkan Nia bahwa dia (Bill) adalah seorang pemuda yang baik.

Untuk mewujudkan niatnya, Bill berencana mendaki Gunung Rinjani lagi bulan berikutnya. Dia mengatur rencana dengan matang. Dia berharap bisa bertemu Nia lagi di pinggir kali itu. Tidak lupa dia mengajak serta sohibnya Ali.

Dia tidak sabar ingin segera ke kali tempat Nia dan teman-temannya biasa beraktivitas. Alhasil, ketika Bill dan Ali ke sana, Nia sedang berada di antara teman-temannya. Seperti biasa, temannya “mem-bully”-nya. “Piran malik ne keteq teruna Amerika ino?” (Kapan lagi ke sini pemuda Amerika itu) Tanya Siti. Belum lama Siti berujar, muncullah Bill dan Ali di pinggir kali itu. Semua terkejut, suasana ceria berubah mencekam. Mereka menahan malu, dan takut….

Tetapi suasana pun segera dicairkan oleh kehadiran Ali. “Nia, ini Bill ingin bicara sesuatu denganmu.” Sahut Ali memecahkan suasana yang kaku itu. “Tetuq…aku…cinte leq kemu…Nia” Kata Bill dalam Bahasa Sasak terbata-bata. Ternyata, Bill juga sudah mulai belajar Bahasa Sasak, dia berguru pada sohibnya, Ali. Rupanya, Nia tidak tahan dengan “serangan” Bill yang mendadak itu. Dia berlari pulang untuk menenangkan diri.

Selepas kejadian itu, Nia rupanya mulai menaruh rasa pada Bill. Bill akhirnya mendapat kepastian cinta Nia melalui perantara Ali. Mereka, kemudian, sering bertemu di pinggir kali itu. Suatu ketika, sepulang dari Danau Segara Anak, Bill membawakan Nia sekuntum bunga  Edelweiss sebagai simbol cintanya. Lama-lama, mereka mulai menemukan banyak kecocokan. Nia mulai belajar Bahasa Inggris, dan Bill mulai mahir Bahasa Sasak. Dua insan dari dunia berbeda sekarang memadu cinta di pinggir Kali sembalun itu.

Bill Melamar Nia

Pada  kunjungan berikutnya, Bill mengatur rencana untuk berkunjung ke rumah orang tua Nia. Dia mempersiapkan diri, antara lain dengan kursus Bahasa Sasak pada Ali. Dengan bekal Bahasa Sasak yang baik, dia bermaksud melamar Nia langsung pada orang tuanya di rumahnya.

Benar saja, ketika Bill mengutarakan keinginannya untuk melamar Nia, Amaq Jalim (panggilan Bapak Nia) merestui dengan menyampaikan beberapa syarat. Pertama, tentu harus sepersetujuan Nia. Kedua, harus dikawinkan (ijab-qobul) secara Islam di Sembalun. Dan yang terakhir, harus mengikuti prosesi adat Sasak (Sorong Serah). Bill rupanya, menyetujui semua syarat itu. Dia akhirnya masuk Islam, membaca dua kalimat syahadat di Masjid Raya Sembalun.

Ketika Bill menyampaikan semua itu kepada Nia, betapa terkejutnya dia. Ternyata, Nia mengajukan syarat tambahan. “Bill….kamu boleh menikahi saya, tapi saya ingin tinggal di sebuah rumah dekat kali.” Pinta Nia. Bill pun berpikir keras,bagaimana caranya membangun sebuah rumah dekat kali.

Pesta Pernikahan ala Barat dan Timur

Lalu, dia pulang ke Amerika. Dia membeli sebuah lahan yang cukup luas yang dekat dengan kali. Di situ dia membangun sebuah rumah yang cukup mewah untuk persiapan tempat tinggalnya bersama Nia nanti.

Kembali ke Lombok, Bill dan Nia melangsungkan pernikahannya. Di laksanakan di Desa Sembalun secara Islam, dengan pesta adat yang meriah. Pesta dilangsungkan dua hari dua malam.

Bill juga ingin mengadakan pesta pernikahan di Amerika sana. Dia ingin memadukan budaya Barat dan Timur. Dia mengundang para kolega, keluarga besar, tetangga dan teman-temannya untuk menghadiri pesta perkawinannya yang meriah dan unik itu. Mereka menikmati kuliner khas Lombok, seperti: bebalung, ayam taliwang, pelecing kangkung, beberuq, jajan tujak, ares dan sebagainya. Para tamu menikmati betul masakan yang tumben mereka rasakan itu. Suasana makin meriah dengan atraksi khas Lombok seperti: gendang beleq, tari rudat, tari beriuk tinjal dan tarian Putri Mandalika.

Namun, ada satu hal yang membuat para tamu terkejut. Mereka pun ramai-ramai bertanya sambil menunjuk suatu tempat “Bill….What for is this?” (Bill untuk apa ini). Bill pun menjawab: “This is Kali….This is Kali for Nia” (Ini Kali….Kali untuk Nia). “Kalifornia???” Mereka sahut ramai-ramai. Dan, konon sejak saat itu, tempat itu menjadi terkenal dan bernama California. …. Wallahu alam bissawab.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERI PEMBELAJARAN MENDALAM: FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

Pembelajaran Mendalam: Fusi Model Lama dengan yang Baru