Cerpen Islami "Madam Aisyah"
MADAM AISYAH
(Sebuah
Cerpen Religi)
Oleh H. Nasrullah Syarif
Suatu
Ketika
Ketika
itu, Tuan Ruslan sedang santai di teras depan ruang guru. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Beliau, membukanya dan mencoba
mengangkat.
“Kok
ini nomor asing…” gumannya dalam hati.
“Ya…halo?”
“Ya
bisa bicara dengan Tuan Ruslan?”
“Ya,
saya sendiri.”
Suara
di seberang adalah suara seorang perempuan dengan Bahasa Indonesia cadel dan terbata-bata.
Jelas sekali dari suaranya, dia bukan penutur Bahasa Indonesia asli.
Siang
itu Tuan Ruslan sedang termenung, mengingat kembali kenangannya belasan tahun
lalu. Dia mengenang momen berkenalan dengan seorang gadis asing via handphone. Ketika
itu, dia barus saja keluar dari kelas selesai mengajar. Entah dari nama
nomornya, kok bisa tercatat di memori handphone
gadis itu.
Dia
mengingat kembali sebuah nama. Ya…, sebuah nama yang indah dan mulia yang
diambil dari nama istri Rasulullah. Masih segar dingatanku pertama kali aku
berkenalan dengan wanita tercantik dalam hidupku . Dia pertama memperkenalkan diri
bernama Aisyah, guman Tuan Ruslan, dalam hati.
“Hallo apakah ini betul Tuan Ruslan…?
Guru Bahasa Inggris di SMA Kusuma Bangsa…?”
“Ya betul…” Jawab Tuan Ruslan keheranan dengan
logatnya.
“I am sorry, do
you speak English?” (Maaf, apakah anda bisa Bahasa Inggris?).
“Yes, I do.” (Ya, saya bisa).
Selanjutnya,
terjadi percakapan panjang lebar antara Tuan Ruslan dan tamu asingnya. Dan
kemudian, dia yang memperkenalkan diri dengan nama Madam Aisyah. Dia mengajak Tuan
Ruslan untuk acara ngopi sore di sekitar Kota Mataram. Dia ingin membicarakan
banyak hal tentang pembelajaran Bahasa Inggris di Kota Mataram. Dia memiliki
acara belajar Bahasa Inggris di Mataram TV. Dia mau mengajak Tuan Ruslan untuk
bergabung.
Tuan
Ruslan menawarkan diri agar mereka bertemu di Starbuck Epicentrum Mall. Mereka
lalu bertemu dan saling memperkenalkan diri. Karena Madam Aisyah belum mahir
Bahasa Indonesia, Mereka berbincang dengan Bahasa Inggris. Madam Aisyah
menceritakan maksud pertemuannya dengan Tuan Ruslan bahwa dia ingin mengajak
kerja sama dalam pelatihan Bahasa Inggris.
Ketika
Tuan Ruslan menanyakan dari mana dia tahu tentang dirinya, Madam Aisyah
bercerita bahwa dia mengenal Tuan Ruslan dari temannya di facebook, yang bernama Pak Arianto.
Pak Arianto bercerita bahwa di Mataram dia
memiliki seorang teman yang bernama Tuan Ruslan. Mereka berteman dalam forum
ilmiah guru Bahasa Inggris tingkat Nasional. Tuan Ruslan adalah seorang peserta
aktif dalam forum tersebut.
“Kalau
tidak salah, beliau juga adalah juri dalam lomba-lomba Bahasa Inggris Kota
Mataram.” Cerita Pak Arianto di fb-nya.
“Apakah
anda punya nomor kontaknya, Pak Ari?”
“Sebentar,
saya cek dulu.”
“Terima
kasih, pak Ari.” Madam Aisyah menutup chatting di Messanger-nya.
Madam Aisyah baru saja enam bulan berada di Kota Mataram. Dia sedang mengembangkan sebuah kursus Bahasa Inggris di Kota itu. Sebagai pendatang baru dia ingin memperbanyak kenalan. Untuk mempromosikan lembaganya, dia mencari partner kerja dengan membuka kerja sama dengan Mataram TV. Sekali seminggu dia memandu program kursus Bahasa Inggris di Mataram TV. Dia sedang mencari beberapa nara sumber yang akan mengisi program Talk Show di televisi lokal tersebut. Salah satu yang ingin dia undang adalah Tuan Ruslan.
Kisah Madam Aisyah di Bali
Setiba
di rumah, Tuan Ruslan terkejut ketika membuka handphone. Muncul wajah seorang gadis cantik di WattsApp-nya. Dia mengirim pesan. Ternyata,
gadis yang meneleponnya di sekolah tadi itu, sekarang mengirim pesan via WattsApp.
“Kita
janjian minum kopi, di Starbuck Epicentrum Mall siang ini, gimana?
“Saya
gak bisa siang hari, gimana kalau sore setelah sholat ashar,” Jawab Tuan Ruslan.
“Ok, fine.”
Selepas
sholat Ashar Tuan Ruslan, meluncur ke Epicentrum Lombok, sesuai janjinya dengan
gadis itu. Dia terkejut, ternyata dia bertemu dengan seorang gadis blasteran.
Pasti dia bukan orang Asia, pikirnya. Setelah berkenalan, dia menyebut dirinya
bernama Aisyah.
“Actually, it is my new name (sebenarnya,
ini nama baru saya).” Ucapnya ketika memperkenalkan diri.
Mereka,
selanjutnya, terlibat dalam percakapan panjang menceritakan banyak hal: tentang diri masing-masing, bisnis kursus Madam
Aisyah, kegiatan Tuan Ruslan, ajaran-ajaran Islam yang sedang dipelajari oleh
Aisyah dan lain-lain.
Madam Aisyah bercerita bahwa dirinya berdarah Filipina dan
Jerman. Dia datang ke Indonesia tiga tahun lalu. Kemudian dia berkenalan dengan
seorang pemuda Timur Tengah, yang bernama Hasan. Hasan adalah seorang Muslim,
tetapi dia tidak terlalu taat menjalankan Islam. Dia sering mengkonsumsi minuman
beralkohol, pergi ke bar dan diskotik, dan jarang mendirikan
sholat.
Mereka
berdua, lalu sepakat untuk tinggal bersama di Bali. Seperti warga asing lain
yang tinggal di daerah wisata, mereka menjalani kehidupan bersama tanpa ikatan perkawinan.
Hidup mereka bebas tanpa ikatan hukum. Karena tidak ada norma yang melarang,
mereka menyewa sebuah apartemen hidup bersama seperti suami istri.
Pada
suatu hari, sebagai seorang Muslim walaupun tidak taat, Hasan memperkenalkan
Sonya (nama asli Aisyah sebelum memeluk Islam) dengan sebuah buku. Ini Sonya,
untuk kamu baca-baca.
“Buku
apa ini Hasan, Tanya Sonya.
“Ini
namanya Al-Qur’an.”
“Apa
itu Al-Qur’an”
“Kitab
suci Agama Islam.”
“Jadi
kamu seorang Muslim?”
“Ya,
tapi….ah sudahlah.” Jawab Hasan mengakhiri perbincangan.
Itulah
pertama kali, Sonya mengenal Al-Qur’an. Dan sejak saat itu, hubungan mereka
memburuk. Sejak dia tahu bahwa pasangan hidupnya adalah seorang Muslim, dia
mulai membencinya. Sonya sangat anti dengan “Agama Teroris” itu. Negaranya
porak poranda karena pertikaian yang tidak pernah putus dengan “teroris”
Mindanao. Mereka selalu memberontak dengan pemerintah yang syah di Manila.
Suku
Moro yang berdiam di Pulau Mindanao, Filipina bagian Selatan adalah penganut
Islam. Mereka memberontak karena ingin memerdekakan diri dari pemerintahan
Kristen di utara. Pertikaian telah berlangsung puluhan tahun. Telah banyak
jatuh korban dari kedua belah pihak karena kejahatan yang dilakukan oleh
“teroris Mindanao.” Itu menurut versi mereka di belahan utara. Hal itu yang
selalu tertanam dalam-dalam di benak Sonya dan orang Filipina, pada umumnya.
Karena
pertengkaran yang terus menerus dengan Sonya, Hasan tidak betah lagi hidup
bersama. Suatu pagi Sonya bertengkar dengan Hasan.
“Kenapa
kamu tidak jujur tentang agamamu?”
“Kamu
tidak pernah bertanya
tentang agamaku.”
“Setidaknya
kamu beritahu waktu awal kita berkenalan.”
“Ada
apa memangnya, hah…?”
Hasan marah.
“Aku
benci, negaraku porak-poranda gara-gara kalian.”
“Apa
maksudmu?”
Hasan
marah besar. Dia tidak bisa menerima sikap Sonya. Dia pergi begitu saja tanpa
pamit. Dia meninggalkan Sonya seorang diri di Pulau Dewata itu.
Kepergian
Hasan merupakan petaka bagi Sonya. Dia adalah seorang anak yatim-piatu. Bapaknya
telah meninggal beberapa tahun lalu. Di Manila dia tinggal bersama ibu dan adik
perempuannya, Amoy. Dia berkelahi dengan ibu dan adiknya, dan dia minggat dari
keluarga. Dia pergi ke Indonesia.
Waktu
memutuskan pindah ke Indonesia, dia bertengkar hebat dengan Ibunya. Ibunya,
Madam Linda tidak setuju Sonya tinggal di Indonesia. Dia khawatir suatu saat Sonya
akan berinteraksi dengan orang Islam.
“Tolong
dengarkan ibu, jangan pergi ke Indonesia.”
“Saya
mau mencari kehidupan baru, bu.” tegas Sonya.
“Setidaknya,
cari negara lain saja.”
“Saya
akan tinggal di Bali.”
“Sama
saja.” Bentak ibunya.
Dia
berangkat
ke Indonesia tanpa direstui ibunya. Bahkan dia berkelahi dengan keluarganya,
karena bersikeras pindah ke Indonesia. Beberapa bulan lalu, dia mendapat kabar
dari Amoy bahwa ibunya meninggal. Sekarang dia harus menghadapi kenyataan
pahit. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Satu-satunya teman hidupnya,
teman berbagi suka dan duka tela pergi. Dia pergi begitu saja meninggalkannya
tanpa pamit. Dia bertanya dalam hati. Apa kesalahannnya sehingga dia tega
meninggalkannya begitu saja. Apa karena pertengkaran pagi itu? Tanyanya dalam
hati.
Belakang
hari, Sonya mendapat kabar dari salah seorang temannya, bahwa Hasan sekarang
telah berada di Shanghai, China. Dia tinggal dengan pasangan barunya, seorang
gadis Tionghoa di Kota itu. Berita itu semakin memperburuk suasana hati Sonya.
“May be this is the end of my life (Mungkin ini akhir dari hidup saya).” Bisikan kecil dari
dalam sanubarinya memberi tahu. Dia mengambil pisau belati di ruang dapur. Dia
menutup mata, pisau belati di arahkan persis ke ulu hatinya. Dengan berderai
air mata, dia memprotes kepada Tuhan.
“Kenapa
saya harus diciptakan, kalau akhirnya seperti ini.”
Dia
mengambil tenaga sekuat mungkin agar bisa menikam dadanya sekuat-kuatnya
sehingga sekali tikaman akan mengakhiri semuanya. Dia menarik napas dalam-dalam
agar seluruh tenaganya terpusat. Namun pada saat kritis itu, konsentrasinya
terganggu oleh suara seekor kucing.
“Meow…meow….”
Dia
hampir lupa bahwa mereka berdua memelihara seekor kucing, yang bernama Bella.
Namun, sehari-hari, Bella lebih sayang kepada Hasan daripada dirinya. Sonya,
sebenarnya, membenci Bella. Dia tidak pernah memberinya makan. Sehari-hari,
hanya Hasan yang membelikan pet food
untuk Bella. Hal itu juga, mungkin, yang menyebabkan Bella membencinya.
Siang
itu, ketika Sonya hampir saja menikam ulu hatinya, Bella melompat ke arahnya.
Seakan-akan dia berkata “Stop.” Dia duduk manja dipangkuan Sonya yang sedang putus
asa. Kehadirannya seakan-akan ingin mendamaikan hati Sonya. Sonya juga tidak
habis pikir, bagaimana mungkin Bella yang selama ini membencinya, sekarang,
tiba-tiba duduk manja di pangkuannya.
Binatang ini sepertinya punya insting macam manusia. Dia tahu suasana hati Sonya saat itu. Dia
duduk manja sambil menghadap ke muka Sonya yang sedang berderai air mata.
Diusapnya air mata Sonya dengan tangan kanannya. Terasa sekali di hati Sonya,
ini usapan yang lembut. Usapan yang penuh kasih sayang.
“Baiklah,
kalau begitu. Aku mengalah.” Kata Sonya.
“Sekarang
saya ikuti apa keinginanmu.” Lanjut Sonya
Ditariknya
tangan Sonya. Seakan-akan dia memberi syarat agar Sonya berdo’a kepada Tuhan.
“Baiklah,
kepada yang di atas sana. Sekarang saya pasrah, saya akan ikuti apa yang Kau arahkan.
Saya akan tunduk pada skenario-Mu. Saya akan melangkah menurut kehendak-Mu.” Kata
Sonya tulus dan pasrah.
Beberapa
hari kemudian Sonya didatangi oleh seseorang. Dia adalah seorang pemuda yang
mengaku berasal dari Jakarta mengajak dia untuk pergi ke Kota Metropolitan itu.
Sonya bingung, bagaimana mungkin pemuda yang belum dia kenal ini, kok tiba-tiba
mengajaknya pergi ke Jakarta.
“Tapi
kita belum saling kenal.”
“Ya,
saya tahu, anda membutuhkan pekerjaan dan suasana baru.”
“Haa…?”
What…?”
“Ndak
usah berakting, sekarang jawab, mau ikut saya, apa nggak?”
“Sebentar
dulu, beri saya kesempatan merenung sejenak.”
Sekarang
Sonya memahami. Mungkin ini yang dimaksud dengan “pasrah kepada skenario-Mu,”
salah satu point ungkapan isi hatinya kepada Tuhan beberapa hari yang lalu.
Sekarang Tuhan mengirimkannya seseorang yang akan membawanya ke tempat yang
baru.
“Sebaiknya,
kamu ikut aja, dulu.” Pinta hati kecilnya.
“Sudah
selesai merenungnya?” Tanya pemuda itu
“Tapi
kita tidak punya ikatan apa-apa.”
“Saya
tidak meminta syarat apa-apa.”
“Baiklah, kalau begitu.”
Pindah ke Jakarta
Siang
harinya, pemuda itu datang lagi. Dia membawa dua lembar tiket Garuda jurusan
Denpasar-Jakarta. Sebelum berangkat, Dia menitip Bella di tetangga sebelah.
Kalau dia tidak kembali, dia memohon agar Bella dirawat dengan baik.
Setiba
di terminal Cingkareng, pemuda itu menyerahkan sejumlah uang dan memberi alamat
sebuah apartemen.
“Tinggallah
di apartemen ini. Saya sudah menyewakanmu untuk sebulan ke depan. Kalau tidak
penting tidak usah mencari saya lagi.”
Pemuda
itu, kemudian, pergi berlalu meninggalkannya. Sonya diam termangu sendirian di
Terminal A bandara International Soekarno Hatta yang luas itu. Dia bingung mau
melakukan apa, karena ini baru pertama berada di tempat ini. Kota Jakarta
merupakan tempat yang masih asing baginya. Namun, dengan bermodalkan alamat
yang diberikan pemuda tadi itu, berangkatlah dia ke apartemen tersebut.
Sekarang
dia memulai kehidupan baru di Kota Jakarta. Sebuah Kota Metropolitan yang penuh
dengan hiruk pikuk aktivitas manusia. Kota yang suasananya berbeda jauh dengan
Bali yang asri dan indah. Di Kota ini dia belum kenal siapa-siapa. Dia berharap
pemuda yang membantunya itu agar datang menemuinya sekali dua kali.
Setidaknya Sonya ingin mengucapkan
terima kasih atas bantuannya. Karena Sonya
belum sempat mengucapkan apa-apa, dia menghilang begitu saja.
Uang
yang dikasih oleh pemuda itu hanya cukup untuk bekal sebulan. Oleh sebab itu,
Sonya mulai mencari-cari pekerjaan. Dia membuka-buka internet mungkin ada
lowongan pekerjaan yang cocok untuknya.
Di
sekitar apartemen tempat tinggalnya, suasananya cukup ramai. Tempat itu dekat
dengan Masjid. Banyak orang berlalu lalang di sekitar itu. Mereka memakai sarung dan kopiah. Dia bertanya
kepada salah seorang dari mereka.
“Kenapa
harus memakai sarung dan kopiah?”
“Kami
menunaikan ibadah sholat di masjid itu.”
“Apa
itu sholat?”
“Beribadah
kepada Tuhan.”
“Oh, begitu ya.” Jawab Sonya ketus, meninggalkan rombongan jamaah itu.
Mengenal Islam
Sekarang
dia terjebak di kawasan orang-orang yang dibencinya selama ini. Dia hidup di
tengah-tengah masyarakat “teroris” yang dia tuduhkan selama ini. Awalnya, dia
cukup terganggu dengan suara toa Masjid yang menghadap ke kamarnya. Suara
“panggilan” aneh yang dia dengar dari Masjid itu membuat dia tidak bisa tidur
nyenyak berhari-hari. Dia ingin protes, tetapi kepada siapa? Lama-lama, dia
mencoba beradaptasi. Anggap saja, suara musik, hati kecilnya berbisik.
Lama-lama
dia menemukan ada “keanehan” dengan rutinitas para jamaah itu. Bagaimana
mungkin mereka bisa menikmati pola hidup semacam ini, pikir Sonya. Mereka berangkat
ke Masjid dengan tertib. Mereka pulang dengan bergembira ria. Pancaran rona muka
mereka menunjukkan aura kedamaian. Dari bahasa tubuh mereka, memberi kesan
kebahagiaan yang genuine keluar dari
bahasa tubuh mereka itu. Baik yang tua maupun yang muda, sama saja, mereka
memiliki ritme kehidupan yang sama.
Sonya
mulai penasaran. Dia ingin mencari tahu lebih jauh.
“Apa
yang mereka lakukan di Masjid itu?” Dia bertanya kepada hati kecilnya.
“Aku
nggak tahu. Pergi aja ke sana.” Jawab hati kecilnya.
Sekarang
dia mencoba memberanikan diri mendekat. Dia mulai mengamati kegiatan para
jamaah di Masjid itu. Dia membaca nama di depan pagar tertulis “Masjid Raudatul
Jannah, Tebet Jakarta Pusat.” Ada anak kecil lewat, dia memberanikan diri
bertanya.
“Apa
yang dilakukan orang di dalam sana?”
“Sholat.”
“Boleh
saya masuk? Saya ingin lihat.”
“Ayo.”
Dia
mengamati gerakan naik turun (rukuk dan sujud) yang menurut dia aneh. Apa mereka
tidak lelah melakukan gerakan-gerakan tersebut berulang-ulang. Kok mau mereka
melakukan ritual tersebut berjam-jam? Tetapi selesai ritual, kok wajah mereka
cerah? Mereka pulang dengan memancarkan wajah yang bahagia, kok, bisa?
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari sanubarinya. Tetapi, dia tidak
mendapatkan jawaban. Makin lama, dia makin penasaran.
Selama
ini, Sonya mengira kehidupan Muslim itu selalu penuh dengan kekerasan. Yang ada
dibenaknya, keseharian pekerjaan mereka hanya menyiapkan pedang, membuat bom dan
senjata untuk membunuh orang, sebagaimana stigma yang tertanam dalam otak orang-orang
selama ini. Media masa Barat selama ini membuat potret semacam itu. Media Barat
menjejali otak masyarakat dunia dengan stigma bahwa Islam adalah agama para
“teroris,” agama para “radikalis” agama para ‘ekstrimis,” manusia “terbelakang”
dan sebagainya.
Tetapi,
setelah dia “terjebak” dalam komunitas mereka, dia menemukan fakta sebaliknya. Mereka,
para jamaah, berangkat ke Masjid dengan hati riang. Mereka datang tidak ada
yang memberi komando, hanya suara toa itu yang memanggil mereka. Mereka pulang
membawa pancaran kedamaian di wajah mereka. Pasti ada suatu “rahasia” di balik
semua ini, hati kecilnya mulai memberi jawaban dari teka-tekinya selama ini.
Lama-kelamaan,
Sonya menemukan kedamaian di tempat itu. Hatinya merasa nyaman, belum pernah
dirasakannya di tempat lain sebelumnya. Rasa penasaran dengan aktivitas umat di
Masjid makin “memanggilnya” untuk terus hadir di sana. Setiap sore, dia sudah
menunggu waktu tibanya sholat magrib. Dia duduk menunggu di teras depan masjid
sambil ngobrol dengan gadis-gadis kecil yang mengaji di situ.
Selama
menunggu waktu sholat, dia bertanya tentang banyak hal kepada mereka. Sonya
yakin, anak-anak itu adalah makhluk yang masih polos. Dia yakin, mereka akan
menjawab setiap pertanyaannya dengan jujur. Dia juga mencoba beradaptasi dengan
pura-pura memakai kerudung.
Pada
saat itu adalah awal Bulan Suci Ramadhan. Sonya penasaran dengan kegiatan umat
yang makin padat.
“Ayu,
mereka lagi sembahyang apa ini?”
“Ini
sholat magrib.”
“Apa
itu magrib”
“Sholat
di waktu sore.”
“Selepas
ini?”
“Sholat
Isya dilanjutkan sholat taraweh.”
“Sampai
jam berapa?”
“Sampai
pukul 10”
“Lama
banget?”
Sonya
diam di masjid itu menyaksikan jamaah sholat magrib, isya, dan sampai selesai
terawih. Dia heran. Kok mereka sholat lama sekali. Apa tidak bosan, tidak capai? pikirnya. Namun walaupun sudah berhari-hari berada di
Masjid itu, dia belum mengubah pendiriannya. Hatinya belum bergerak. Hati
kecilnya masih menolak kebenaran, sampai suatu hari….
Saat
itu, Masjid Raudatul Jannah kedatangan tamu istimewa dari Makkah. Beliau adalah
salah seorang imam besar dari Kota Suci. Beliau diundang oleh panitia Masjid
untuk menjadi imam sholat isya sekaligus sholat tarawih. Sonya mencoba masuk,
menerobos ke dalam. Dia ingin mendengarkan bacaan imam dengan seksama. Dia
memperhatikan banyak jamaah yang meneteska
air mata mendengar bacaan imam. Dia juga merasakan hal yang sama.
Padahal dia tidak paham apa yang dibaca oleh imam, tetapi tanpa terasa air
matanya menetes. Dia larut dalam perasaan yang dia sendiri tidak paham apa
maknanya.
Dia
lari pulang. Dia menangis tersedu-sedu di dalam kamar. Dia bertanya pada hati
kecilnya.
“Apa
yang terjadi pada saya.”
“Iman
Islam sudah masuh ke dalam sanubarimu,” Jawab hati kecilnya.
“Tidak….tidak
mungkin.”
“Jangan
bohongi dirimu sendiri, Sonya.”
“Tetapi
aku tidak pantas.”
“Apa
maksudmu?”
“Islam
terlalu suci untukku. Aku ini orang yang hina dina, tidak pantas masuk ke sana.”
Jawabnya menutup debatnya dengan hati nuraninya.
Dia
mengambil bantal, dia ingin tidur. Dia ingin “melarikan diri” dari perasaan
aneh yang telah menguasai hatinya. Dia mencoba mengalihkan semua itu. Tetapi, sia-sia saja.
Sepanjang malam itu, terjadi perdebatan panjang antara hati nurani dan ego
(nafsu) dalam diri Sonya. Hal ini membuatnya merasa capai. Dia ingin menghindar,
tetapi sudah nggak bisa.
Lelah
berpikir, akhirnya dia tertidur juga. Dalam tidurnya, dia bermimpi. Dia
dibisiki oleh suara ghaib. Dia diajak ke suatu tempat yang sepi, sunyi, tetapi
mendamaikan hati. Datang sesosok makhluk yang berpakaian serba putih. Sosok itu
mengajak Sonya bicara:
“Sonya
apa kabarmu, sayang?
“Saya
takut.”
“Mari
masuk ke pelukanku, nak.”
“Iya…,” jawab Sonya gugup.
“Sekarang
ikuti ucapanku.”
“Iya,
apa itu.”
“Ashadu anlaa ilaaha illallah….”
Shonya,
sontak terbangun. Dia lari ke Masjid. Saat itu, waktu subuh akan segera tiba.
Dia menemui salah seorang pengurus masjid yang ada di dalam. Dia menceritakan
mimpinya.
“Apa
ibu mau masuk Islam?” Tanya Imam Sholeh.
“Ya,
bantu saya ucapkan syahadat.” Jawab Sonya tanpa ragu.
Imam
Sholeh mengumumkan kepada jamaah sholat subuh, agar selesai sholat nanti Jama’ah tidak langsung pulang. Ada seorang mualaf yang akan
mengucapkan dua kalimat syahadat. Disaksikan oleh jamaah sholat subuh, Sonya mengikrarkan dua
kalimat sahadat. Dia dibimbing oleh Imam Sholeh:
“Ashadu anlaa ilaaha illalloh, wa ashadu anna
Muhammadarrosuululloh.”
Setelah mengucapkan dua kalimat Syahadat, dia kemudian mengganti namanya. Beberapa hari sebelumnya dia sudah membaca beberapa nama perempuan dalam Islam. Dia tertarik dengan nama salah seorang istri Rasulullah. Dia dengan mantap mulai saat itu mengganti namanya menjadi Siti Aisyah.
Pindah ke Lombok
Masa
tinggalnya di Apartemen itu beberapa hari lagi akan segera berakhir. Namun,
sampai saat ini dia belum memiliki pekerjaan. Dia mencoba lagi mencari-cari
lowongan pekerjaan di internet, sampai kemudian dia menemukan sebuah lembaga
kursus yang sedang mencari guru Bahasa Inggris. Lembaga Kursus yang beralamat di
Lombok itu bernama “King Profesional. “ Lembaga itu sedang mencari beberapa
orang guru, native speaker (penutur
asli).
Sonya
mencoba mengirim lamaran on-line. Beberapa hari kemudian,
Alhamdulillah, dia di terima. Dia pamitan kepada Jama’ah masjid Raudatul Jannah
bahwa dia akan pindah ke Lombok. Imam Sholeh juga berasal dari Lombok. Beliau
meyakinkan Bu Sonya agar memperdalam Islam pada Tuan Guru di Pulau Seribu
Masjid tersebut.
“Di
sana banyak Tuan Guru, bu Sonya.” Kata Imam Sholeh.
“Sekarang
nama saya Aisyah, Pak”
“Oh,
Alhamdulillah, di sana terkenal dengan nama seribu Masjid.”
“Kenapa
begitu namanya.”
“Karena,
Masjid banyak sekali. Beberapa ratus meter, ada Masjid.”
“Oh
begitu ya? Siapa maksudnya Tuan Guru?”
“Kalau
di sini kita memanggil tokoh agama dengan Kiyai, di sana Tuan Guru.”
“Oh,
terima kasih atas informasinya.”
“Selamat
jalan bu Sonya, eh… Madam Aisyah.”
“Terima kasih atas bimbingan Bapak/Ibu, saya mohon do’a.” Ucapan Madam Aisyah menutup pertemuan. Siang harinya dia berangkat ke Lombok.
Menikah dengan Tuan Ruslan
Tanpa
terasa perbincangan di Beranda luar Starbuck itu telah berlansung berjam-jam
lamanya. Ini sudah hampir masuk waktu magrib. Tuan Ruslan pamit, dan mereka
berjanji untuk bertemu besok siang di acara Mataram TV.
Sekarang
intensitas pertemuan dengan Madam Aisyah makin sering. Mereka sama-sama
mengelola lembaga kursus Bahasa Inggris di lingkungan Perumahan Kodya Asri
Mataram. Selesai mengajar mereka menyempatkan diri untuk ngobrol ringan.
Tuan
Ruslan adalah seorang duda beranak dua. Walau sudah ditinggal mati oleh istri
tercinta, dia belum berniat untuk kawin lagi. Tetapi, dua orang puterinya
mendesak, agar beliau segera mendapatkan jodoh. Anak-anak sibuk dengan urusan
kuliahnya. Supaya ada yang mengurusnya, Bapaknya harus segera kawin. Itu pinta
mereka.
Pertemuannya
dengan Madam Aisyah yang intens menumbuhkan rasa cinta di antara mereka. Suatu
hari, di waktu santai selesai mengajar di Lembaga Kursus mereka terlibat dalam
dialog ringan.
“Ngomong-ngomong,
kenapa nyonya tidak pernah diajak? Saya ingin berkenalan.” Tanya Madam Aisyah.
“Dia
sudah mendahului saya.”
“Oh,
maaf…. di rumah sama siapa?”
“Dua
orang puteri saya.”
“Oh,
begitu….”
“Bagaimana,
kalau kita….”
“Maksud
bapak?”
“Maaf,
nanti saja deh…” Tuan Ruslan menutup membicaraan, yang membuat Madam Aisyah
bingung.
Rupanya,
dari arah pembicaraan tadi sebenarnya Tuan Ruslan ingin membicarakan sesuatu
yang privat. Tetapi, momen dan tempatnya tidak tepat. Karena di tempat itu banyak orang, beliau tidak
ingin orang lain mengetahui hal itu. Beliau khawatir, respon Madam Aisyah akan
membuat orang lain kaget, dan akan terjadi hal-hal yang tidak terduga.
Dari
pertemuan singkat tadi itu, Madam Aisyah rupanya menangkap gelagat yang mulai
“mencurigakan” dari Tuan Ruslan. Apalagi, selesai pertemuan itu, di hari-hari
berikutnya sikap beliau mulai berubah. Ketika bertemu Madam Aisyah, dia
menampakkan sikap canggung.
“Stop,
dulu.”
“Tapi
saya mau buru-buru ke sekolah, ini.”
“Dua
menit saja.”
“Oh,
baiklah.”
“Apa
yang sedang terjadi dengan anda?”
“Maksudnya?”
“Jangan
pura-pura bertanya, kenapa sikap Bapak kepada saya, berubah?”
“Mestinya,
Madam juga sudah paham.”
“Maksudnya?”
“Jangan
pura-pura…. Maaf, saya keburu-buru ke sekolah.” Jawab Tuan Ruslan meninggalkan
rasa penasaran di hati Madam Asiyah.
Sore
itu, Tuan Ruslan mendapat pesan WA dari Madam.
“Baiklah,
saya paham isi hatimu.”
“Kalau
begitu, kapan kita langsungkan?”
“Maksud
anda?”
“Hati
kita sudah saling kenal, gak usah lama-lama.”
“Anda
mengajak saya menikah?”
Setelah
saling berbalas pesan lewat WA, sekarang terang sudah. Sudah jelas perasaan
mereka masing-masing. Mereka akhirnya merenung beberapa hari untuk memutuskan
hal yang sangat krusial dalam hidup mereka. Tuan Ruslan berdiskusi dengan dua
orang puterinya. Beliau menangkap kesan, mereka sangat setuju dengan keputusan bapaknya.
Tuan
Ruslan, kemudian bercerita tentang latar belakang Madam Aisyah kepada
puterinya. Beliau adalah seorang mualaf, dari Filipina. Di sini dia hidup
sebatang kara. Tidak boleh
seorang Muslimah berlama-lama sendirian, apalagi dia seorang mualaf. Beliau merasa berkewajiban agar “melindungi” seorang
mualaf, apalagi seorang perempuan agar tidak sendirian. Dia membutuhkan
pendamping hidup yang bisa membimbingnya memahami Islam secara kaffah (utuh) dan komprehensif.
Di
kamarnya, Madam Aisyah mengerjakan sholat istiharah dua rakaat. Dia melapor
kepada Allah tentang “ujian” hidup yang sedang menimpanya. Beliau meminta
kepada Allah agar diberikan pencerahan.
“ Ya… Allah, tolong tunjukkan hamba, jalan yang terang, jalan yang lurus. Berikan keyakinan pada hati hamba apakah dia memang jodohku yang akan membimbingku agar makin mengenal-Mu?” Pinta Madam dalam do’anya.
Naik kapal “Victoria Cruise.”
Sudah
hampir lima tahun Madam berada di Indonesia. Sampai saat ini dia masih memegang
paspor Filipina. Dia kangen dengan kampung halamannya. Dia rindu ingin ziarah
ke makam Ibunya dan ingin bertemu Amoy,
adiknya. Namun, dia belum memiliki dana yang cukup untuk pulang kampung.
Sambil
buka-buka informasi tentang Filipina di internet, dia menemukan sebuah
“tawaran” jalan-jalan. Ada penawaran
jalan-jalan gratis, keliling beberapa negara ASEAN yang diadakan oleh sebuah
lembaga Nirlaba dari Malaysia. Lembaga yang bernama “ASEAN Friendship” sedang melakukan promosi pariwisata ASEAN. Tujuan utamanya
menjalin kerjasama kebudayaan dan pendidikan antar negara ASEAN.
Salah
satu syarat sebagai peserta adalah pengajar, khususnya Bahasa Inggris. Madam mencoba
mengirim lamaran melalui daring. Dia, kemudian melengkapi biodata, tujuan,
negara asal, aktivitas saat ini dan sebagainya. Di sana ada pilihan, negara
mana saja yang mau disinggahi, hanya boleh memilih tiga negara, misalnya:
Indonesia, Malaysia, Filipina.
Beberapa
hari kemudian, dia mendapat jawaban dari lembaga tersebut. Alhamdulillah, dia
diterima naik kapal pesiar Victoria
Cruise berkeliling empat negara ASEAN. Berangkat dari Jakarta, Indonesia
menuju ke Malaysia, dan singgah beberapa hari di Thailand lalu ke Filipina.
Betapa senangnya Madam menerima kabar gembira tersebut. Dia tidak sabar untuk
meceritakan kepada suaminya dan dua orang puterinya (anak tirinya, Ayu dan Ani).
Namun
ada satu hal yang mengganjal. Dia harus meninggalkan puteri mungilnya yang masih berumur tiga bulan. Tiga bulan yang lalu dia melahirnya
seorang puteri yang bernama Aura Puteri Ruslan, buah dari pernikahannya dengan
Tuan Ruslan. Berat rasanya meninggalkan puteri yang masih menyusui. Tetapi di
sisi lain hatinya, rasa kangen kepada keluarga di Filipina tidak bisa dibendung
lagi.
Pagi
itu ada berita buruk datang dari Kota Wuhan, China. Virus baru yang bernama
Corona atau Covid-19 sedang mewabah di Kota itu. Virus yang berasal dari
binatang liar yang dijual bebas di salah satu pasar di Kota Wuhan itu telah
memakan korban. Pada bulan Februari ini, sudah dua puluh orang meninggal,
ratusan lainnya diisolasi di rumah sakit. Hal itu menyebabkan pemerintah China
me-lock down (menutup) Kota itu.
Orang Wuhan tidak boleh keluar, dan orang luar tidak boleh masuk ke Kota Wuhan.
Lock down berlangsung selama dua
bulan setelah wabah tersebut mereda.
Perkembangan
wabah Covid-19 makin mengkhawatirkan dunia. Sekarang telah berjangkit ke
berbagai negara, seperti Korea, Italia, Iran, Amerika, dan beberapa negara
Eropa dan ASEAN. Madam mengamati terus perkembangan terbaru tentang wabah
tersebut, karena beberapa hari lagi dia akan bepergian naik kapal Victoria Cruise. Dia berharap semoga
Indonesia dan Filipina bebas dari wabah tersebut.
Dia
pamit kepada suami dan dua orang anak tirinya. Dia menitip puteri mungil
mereka, Aura agar dijaga dengan baik. Dia memohon do’a agar selamat di perjalanan
dan tiba kembali ke Indonesia dengan selamat. Hari ini dia segera akan
berangkat ke Jakarta. Dia akan bertemu rombongan di Tanjung Priuk Jakarta.
Besok pagi kapal Victoria Cruise akan
merangkat menuju Malaysia. Singgah tiga hari di negara jiran tersebut, lalu perjalanan
di lanjutkan ke Thailand. Singgah tiga hari di negara Gajah Putih tersebut
sebelum akhirnya berlabuh di Filipina.
Kapal
akan berlabuh di Filipina selama seminggu. Peserta akan mengikuti beberapa
aktivitas budaya di Kota Manila. Sesuai rencana, Madam Aisyah, akan
menyempatkan diri berziarah ke makam ayah dan Ibunya, selanjutnya menjenguk
adiknya Amoy.
Madam
berangkat dengan Victoria Cruise tanpa
ada halangan berarti. Ada seratus orang dalam rombongan wisata persahabatan
pendidikan dan kebudayaan (Friendship in
Cultural and Education Activity)
antar warga ASEAN itu. Kontingen dari sepuluh anggota negara ASEAN
terwakili semua. Masing-masing negara diwakili oleh sepuluh orang. Madam Aisyah
sendiri mewakili Filipina, karena masing memegang paspor negara asalnya. Selama
di kapal mereka
mengadakan “gathering.” Sesuai misi
kegiatan tersebut, mereka mengadakan bermacam-macam kegiatan kebudayaan selama
berada di Victoria Cruise. Namun,
ada kabar kurang baik beredar di luar sana, “VIRUS CORONA.”
Beberapa
hari kemudian, berita televisi dan on-line “heboh” tentang sebuah Kapal Pesiar
yang bernama Victoria Cruise. Banyak
penumpang kapal tersebut yang terpapar virus Covid-19, bahkan dikabarkan bahwa beberapa
orang telah terinveksi. Berita tersebut membuat risau Tuan Ruslan, karena salah
seorang di antara penumpang kapal itu adalah istrinya. Dia selalu berdo’a agar
isterinya selamat dalam perjalanan.
Kabar
terbaru datang lagi. Kapal pesiar Victoria
Cruise tidak diperbolehkan mendarat oleh negara Malaysia, Thailand dan
Filipina. Pemerintah setempat khawatir, kapal itu akan membawa wabah Covid-19 ke
negara mereka. Keadaan di kapal itu makin lama makin memburuk karena tidak ada
satu negarapun yang mengizinkkannya berlabuh. Sementara stok makanan makin
menipis. Paparan virus makin mengganas. Tiap hari selalu ada yang terpapar dan
terinveksi, sementara pasien kekurangan tenaga medis dan obat-obatan.
Berita
televisi pagi ini mengabarkan bahwa semua penumpang Victoria Cruise telah terpapar Covid-19. Berita itu membuat Tuan
Ruslan dan anak-anaknya wawas memikirkan nasib Madam. Beliau menangkap firasat
yang kurang baik. Tadi malam beliau bermimpi, Madam Aisyah berpakaian putih:
“Tolong jaga Aura,” Katanya lalu pergi menghilang.
Firasat
itu akhirnya terjawab. Siang ini dia mendapat surat elektronik (e-mail) dari kapal Victoria Cruise bahwa salah
satu korban meninggal akibat Covid-19 adalah:
Name: Sonya Mamay Nachla
Age: 30 years old
Nationality: Philipine
Husband: Ruslan
Hati Tuan Ruslan “hancur” mendapat kabar dari Victoria Cruise. Dia memikirkan puteri mungilnya buah cinta mereka yang baru berumur tiga bulan. Aura Puteri Ruslan telah ditinggal pergi oleh ibunya selama-lamanya.
Tuan Ruslan Kembali ke Kampung
Dua
puluh lima tahun sudah berlalu dari kejadian yang mengerikan itu. Virus Corona yang
menggegerkan dunia, telah merenggut nyawa ratusan ribu orang. Salah satunya
adalah istri kedua Tuan Ruslan, Madam Aisyah. Masih teringat dengan dengan
jelas, pada saat itu, penduduk dunia takluk pada keganasan makhluk mikroskopik
itu. Ekonomi lumpuh, aktivitas manusia hanya mengisolasi diri di rumah
masing-masing.
Pada
saat itu, Madam Aisyah sedang dalam perjalanan dengan Kapal Pesiar ke Manila,
Filipina. Dia ingin berziarah dimakam ibunya dan sekalian menjenguk saudara
tunggalnya, Amoy di Manila. Tanpa dia sadari Kapal Pesiar itu, tidak boleh
bersandar di Filipina, karena terdeteksi ada pasien Corona di dalam kapal itu.
Ketika ingin kembali ke Malaysia, home-basenya, juga ditolak. Kapal Victoria Cruise akhirnya berdiam
berhari-hari di tengah laut tanpa dibolehkan bersandar oleh semua negara.
Geladak
kapal seakan-akan seperti “battle field,”
ladang pembantaian. Mayat-mayat bergelimpangan karena tidak tertangan dengan
baik. Mereka yang terinveksi Covid-19, dibiarkan begitu saja. Kapal tidak
memiliki persediaan obat-obatan yang cukup dan tenaga medis yang memadai.
Membaca
berita dari WhatssApp yang dikirim Madam Aisyah, sunggung mengerikan.
Mayat-mayat yang bergelimpangan di geladak kapal. Seisi kapal semua terpapar
covid 19. Sebagian besar penumpang kapal akhirnya meregang nyawa di dalam
kapal, salah seorang di antaranya adalah Madam Aisyah. Dia tidak sempat bertemu
saudara yang dirindukannya, tidak sempat menabur bungan di pusara makam ibunya.
Bahkan, dia sendiri tidak diketahui di mana dimakamkan.
Tuan
Ruslan tak mampu menahan air mata mengenang nasib istri keduanya. Setelah
seperempat abad berlalu, sekarang Tuan Ruslan hidup menepi dari keramaian. Dia
tinggal di kampung kecil di kaki gunung Rinjani bernama Sembalun.
Di
kampung dia dipercaya menjadi khotib Jum’at dan sekali seminggu mengajar
pengajian di Masjid Jami’ Sembalun.
Sehari-hari dia mengajar anak-anak mengaji di halaman belakang rumahnya
yang sederhana.
Dia
cukup bahagia dengan aktivitasnya. Mengisi hari tua dengan aktivitas bertani
dan mengajar ngaji. Sekali-sekali, dr. Aura, buah cintanya dengan Madam Aisyah
menemuinya. Aura, mengikuti karir dua kakaknya, dr. Ayu dan dr. Ani (anak dari
istri pertama) menjadi dokter di Puskesmas Sambelia.
Wallahu alam bissawab……
Komentar
Posting Komentar