Cerpen "La Mponggo Runggu"


 

La  Mponggo Runggu

Oleh

Nasrullah Syarif

Dalam karya sastra selalu ada figur simbolik. "La Mponggo" adalah simbol pemuda Bima yang lugu (innocent) tapi pantang menyerah (tough). Dua hal tersebut menjadi modal pemuda Bima rantauan meraih kesuksesan.  Karena kepolosannya, La Mponggo salah menafsir makna simbol, dan justru itu yang memotivasi dia untuk berikhtiar. Dalam kisah berikut, jalan menuju sukses diraih dengan cara yang unik dan tidak lazim.

Di suatu Desa pedalaman Bima nan Damai dan tentram hiduplah seorang pemuda yang lugu. Pemuda yang bernama La Mponggo (yang artinya kira-kira lugu) itu tinggal di sebuah desa kecil di kaki Gunung Lambitu Bima Tenggara. Desa itu namanya Desa Runggu. Pekerjaan Mponggo sehari-hari adalah mencari kayu bakar ke gunung. Menjelang musim panen tiba, Mponggo bersama kawan-kawannya berangkat ke gunung.  Pagi-pagi sekali, selepas shalat Subuh, mereka naik gunung untuk mengumpulkan kayu bakar di sela-sela hutan, lalu siang hari menjelang Zhohor mereka pulang. Itulah pekerjaan rutin mereka sampai akhirnya tiba kesibukan baru di sawah, yaitu panen padi.

Namun, La Mponggo merasa jenuh juga dengan pekerjaan rutinnya itu. Dia ingin melakukan aktivitas lain untuk sekedar refreshing. Beberapa hari terakhir ini dia selalu memikirkan hal itu. Pada suatu malam La Mponggo bermimpi bertemu sohibnya Umar. Umar adalah sahabat kecil La Mponggo ketika mereka sama-sama masih tinggal di Desa Runggu. Umar sudah lama pergi merantau dan sekarang tinggal di Mataram. Mimpi itu membawa Mponggo ke kenangan lama puluhan tahun silam ketika mereka bermain bersama dengan Umar, Hasim, Ute, Bolu dan Rinci. Mereka mencari jangkrik di gunung, mengejar layang-layang di sawah, bermain kelereng di kampung.  Teman-temannya itu sekarang banyak yang sudah pergi merantau. Dia berhasrat sekali untuk pergi ke Mataram, ingin temu kangen dengan shohibnya, Umar.

Walaupun lugu, Mponggo adalah pemuda yang antusias dan berusaha keras. Kalau sudah merencanakan sesuatu harus diwujudkannya. Dia adalah pemuda yang ngotot mempertahankan idealismenya. Termasuk rencananya pergi ke Mataram. “Harus diwujudkan dalam waktu dekat ini,” pikirnya. Suatu hari dia menyampaikan keinginannya kepada Ibunya. “Inaq….saya ingin jalan-jalan mau ketemu Umar di Mataram.” Pinta Mponggo di suatu pagi.  “Kita belum punya cukup uang nak…” Jawab ibunya. “Tapi kapan lagi bu? Saya ingin jalan-jalan…pokoknya”  lanjutnya dengan sedikit menekan. “Insya Allah selesai panen nanti, kita dapat cukup gabah untuk kita jual nak ya…” jawab ibunya dengan sabar memberi pengertian.

Si Mponggo Jalan-Jalan ke Mataram

Sesuai janji Ibunya, selesai panen, Mponggo mewujudkan impiannya jalan-jalan ke Kota Mataram. Selepas sholat magrib, dia diantar oleh ibu dan sanak familinya ke Tente. Dia naik Bus Malam Surya Kencana di terminal Tente. Ini pengalaman pertama baginya bepergian jauh, apalagi naik bis malam. Dia, lalu menghubungi Umar agar menjemputnya.  Semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak, membayangkan seperti apa Kota Mataram itu. Sesampai di terminal Mandalika, dia sudah ditunggu oleh sohibnya Si Umar.

Di Mataram, Mponggo di ajak keliling kota oleh sohibnya. Mereka jalan-jalan ke Narmada. Umar ingin mengajak temanya melihat keindahan taman Narmada yang terkenal dengan sumber mata air awet mudanya itu. Dibonjengnya Mponggo dengan motor bututnya merek Honda 70. Jalannya slow, sehingga dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di Narmada.

Walaupun naik motor butut tahun 70-an Mponggo sangat menikmati perjalanan tersebut. Dia sangat senang melihat pemandangan nan hijau sepanjang jalan. Dia memperhatikan dengan seksama gedung-gedung yang bagus-bagus (menurut dia) sepanjang perjalanan. Suatu pemandangan yang belum pernah (atau setidaknya jarang) dia saksikan di kampung halamannnya di Runggu sana.

Bertemu Mobil Antik

Di tengah jalan, persisnya di kawasan Gerimax, Mponggo terkesima dengan sebuah mobil (menurut pikirannya) “antik” yang sedang parkir di pinggir jalan. Itu sebenarnya adalah sebuah mobil tangki BBM (Bahan Bakar Minyak). Mobil itu sangatlah unik bagi dia karena dia belum pernah melihat mobil macam itu di kampungnya. “Umar…..midi wa’u samporo (berhenti dulu sebentar).” Pintanya. “ada apa….?” Tanya Umar. “Saya mau melihat mobil itu dulu….” Lanjutnya.

Mponggo mendekat ke mobil itu….diamatinya dengan seksama. “Siapa gerangan orang kaya di kota Mataram ini pemilik mobil antik ini…” gumannya dalam hati. Dilihatnya dari seluruh arah, di depan, di belakang, di samping kiri dan kanan. Akhirnya, dia mengambil kesimpulan. “M. SOLAR…..” diejanya pelan-pelan “Oh…..pemiliknya Bapak Muhammad Solar…..” kesimpulannya dalam hati.

Ini kesimpulan yang menarik bagi Mponggo di perjalannya yang pertama keliling Kota Mataram hari ini. Sambil tersenyum sendiri dia berbicara dengan dirinya sendiri “ada orang kaya raya di Mataram pemilik mobil antik yang bernama Muhammad Solar.” “Ada apa kamu bicara sendiri.” Tanya Umar membangunkan dia dalam hayalannya. “Hmm ndak ada apa-apa.” Jawabnya enteng. Mereka pun melanjutkan perjalan ke Taman Narmada. Setelah puas dengan mandi dan mancing di kolam Narmada, mereka pergi  untuk shalat Ashar berjamaah di sebuah Mushola dekat Pasar Narmada, dan pada pukul 17 sore mereka pulang ke kos Umar di kawasan Gomong Lama.

Pada hari ke dua, Umar bermaksud mengajak Mponggo jalan-jalan ke wilayah utara. Dia ingin mengajak Mponggo melihat Pusuk. “Melakukan foto selfie di puncak Pusuk adalah suatu pengalaman yang tak akan terlupakan bagi Mponggo,” pikirnya. Tidak lupa mereka membawa kacang beberapa bungkus untuk diberikan pada monyet-monyet di sekitar kawasan Pusuk itu.

Pada hari itu udara cukup sejuk di sepanjang jalan dari Rembige ke Gunung Sari. Tidak putus-putusnya Mponggo menikmati anugerah Tuhan berupa pemandangan yang indah sepanjang jalan. Pemandangan seperti ini jarang dia saksikan di kampung halamannya yang kering kerontang, apalagi di musim kemarau seperti ini. Dia senang memandang atmosfir pegunungan yang masih asri. Pemandangan hijau di di kiri-kanan jalan, dengan sekali-sekali hamparan sawah sepanjang jalan yang dilewatinya. “Betapa besar anugerah Tuhan untuk masyarakat Lombok ini,” Gumannya dalam hati.

Namun, ketika tiba di kawasan gunung Sari, ada pemandangan atau obyek lain yang membuat Mponggo terkejut. Dia melihat mobil yang sedang diparkir di pinggir jalan, mirip sekali seperti mobil “antic” yang dia temukan di kawasan Narmada kemarin. “Stop…stop….” Teriakannya mengagetkan Umar. Hampir sempoyongan Umar mengerem motor bututnya karena kaget. “Ada apa lagi sih…kamu ini?” Tanya Umar sedikit kesal. “Itu….lihat….sama persis seperti mobil yang kita lihat di Narmada kemarin…..itu kan…?” Jawabnya. “Biarkan saya turun untuk melihatnya dari dekat,” lanjutnya. Setelah dia mengamati seluruh bagian mobil tersebut, dia membuat asumsi. “Pasti pemiliknya sama dengan yang kemarin….hmm…atau setidaknya mereka bersaudara.”

Untuk memastikan dugaannya, diapun mengamati sekali lagi dengan lebih teliti, siapa tahu ada clue yang dia dapatkan. Akhirnya, dia menemukan nama yang perpampang di samping mobil “antik” itu. “nah….ini dia….Muhammad Tanah.” Sahutnya dalam hati. “Pasti beliau adalah saudaranya Bapak Muhammad Solar. Hebat….dua orang bersaudara di Mataram….kaya raya….” Gumannya dengan penuh rasa kagum. Diapun termenung sejenak “Bagaimana seandainya anak-anak saya nanti seperti mereka ya….” “hei…cepat….kita kesiangan sampai di Pusuk nanti” Teriak Umar membangunkan Mponggo dari lamunannya.

Tanpa membuang waktu, Umarpun mem-force motor bututnya supaya segera tiba di Puncak Pusuk yang terkenal indah dan elok itu. Sesampai di sana mereka membeli beberapa botol minuman tradisional “air Tuak manis” untuk melepas dahaga. Persis di Puncak Pusuk, spot yang mengarah ke wilayah KLU (Kabupaten Lombok Utara) dengan latar belakang lembah hijau dan dari kejauhan tampak laut biru,  di situlah mereka melakukan foto selfie. Ini akan jadi kenang-kenangan dan bahan cerita nanti di Bima, pikir Mponggo. Setelah memberi makan beberapa ekor monyet yang berkeliaran di sekitar kawasan itu, mereka menuju ke sebuah Mushola untuk mendirikan sholat Ashar berjamaah. Selepas sholat ashar mereka pulang ke Mataram.

Pada hari berikutnya mereka melakukan perjalanan keliling Mataram bagian selatan. Dari jalan lingkar selatan mereka menuju ke Gunung Pengsong. La Mponggo merasa senang karena bisa berkeliling Mataram dan sekitarnya setiap hari. Pemandangan alam di bagian selatan tidak kalah indahnya dengan kawasan Pusuk dan Narmada. Dia tidak lupa membawa handphone untuk melakukan foto selfie beberapa spot yang dia senangi. Foto hasil jepretannya akan menjadi saksi bisu kisah perjalanannya keliling Mataram. Dan, dia tidak sabar lagi untuk memposting foto-foto terbaiknya di akun facebook-nya.

Setelah beberapa kilometer Umar memboceng Mponggo dengan motor bututnya, mereka kehabisan bensin.  Umar mendorong motor Honda 70-nya menuju Pom bensin Lingkar Selatan. Sesampai di sana, betapa terkejutnya Mponggo melihat plang di SPBU itu. Ternyata “saudara-saudaranya” Bapak Muhammad Solar dan Bapak Muhammad Tanah terpampang di situ, ada Muhammad Premium, dan Muhammad Pertalite. “Luar biasa….ternyata empat bersaudara ini adalah pemilik usaha BBM di Mataram ini….betapa kayanya mereka….dan alangkah bangga orang tua yang melahirkan mereka,” pikirnya dalam hati. “Tapi….kok aneh nama-namanya…ya?” pikirnya lagi. “Ah….EGP (Emang Gua Pikirin)….yang penting mereka kaya…,” sambungnya meyakinkan diri.

Melihat tingkah Mponggo yang aneh dengan mulut berkomat-kamit, Umar menegurnya. “Hi…ngapain di situ ayo cepat…..” panggilnya sedikit membentak dan membuyarkan  khayalan Mponggo. “Ayo…kita lanjutkan jalan-jalan ke Gunung Pengsong….kita tengok “saudaramu,” (maksudnya monyet Gunung Pengsong) sambil bergurau.

Sesampai di pertigaan Desa Prampuan mereka belok kanan menuju Gunung Pengsong. Tak sabar rasanya mereka ingin menaiki puncak Gunung yang terkenal itu. Mereka ingin segera menghirup udara segar pegunungan sambil memberi makan monyek-monyet di puncak gunung itu. Pemandangan tak kalah indahnya jika dilihat dari atas. Hamparan sawah nan hijau membentang di kiri-kanan gunung. Kicauan burung dan gemercik air kali dekat gunung menambah sahdunya suasana di tempat itu.

Mponggo menutup perjalanan keliling Mataram dan sekitarnya dengan pengalaman yang sempurna. Sebuah oleh-oleh yang disimpan baik-baik dalam LTM (Long Term Memory)-nya, yaitu empat orang bersaudara kaya raya, pemilik perusahaan perminyakan di Mataram. Mereka ini nanti yang akan menginspirasi hidupnya. Esoknya dia segera pulang kembali ke kampung halamannya di Runggu-Bima.

Mponggo Jatuh Cinta

Perjalanan ke Kota Mataram menginspirasi kisah kehidupan Mponggo selanjutnya. Dulu dia adalah pemuda yang polos dan lugu, sekarang telah berubah. Penampilannya mulai necis, ke mana-mana selalu memakai celana Jeans. Namun demikian, dia tetap menjadi pemuda yang alim dan taat beribadah seperti dulu. Tatkala azan berkumandang, dia langsung menuju masjid untuk menunaikan shalat berjamaah.

Orang kampung Runggu melihat ada perubahan dalam diri La Mponggo sepulang dari Kota Mataram. Demikian juga dengan pergaulannya,  dulu dia diolok karena tidak berani mendekati gadis, dan terkesan kuper (kurang pergaulan). Sekarang dia telah berubah total. Dia sudah mulai berani “menembak” gadis di Desanya.

Sejak lama dia memendam rasa cintanya dengan Asmah, kembang desa putri Pak Kadus. Selama ini dia tidak berani mengutaraka isi hatinya. “Siapa sih aku ini?” pikirnya. “mana mungkin Asmah mau sama aku…” pikirnya berkali-kali. Namun itu adalah dulu, sebelum dia "menimba ilmu" Mataram. Sekarang adalah Mponggo yang telah berubah, seorang pemuda Runggu yang perlente dan pemberani.

Malam Ahad ini adalah kesempatan dia samperin Asmah, sekalian berbagi cerita tentang kisah perjalanannya ke Mataram, pikirnya. Selepas shalat Ashar di Masjid dia sepintas melihat wajah asmah lewat. Sesampai di rumah, diapun memberanikan diri mengirim SMS (Short Message Service). “Assalamu’alaikum. Apa kabar Asmah? Boleh saya jalan-jalan ke rumah ntar malam?” dengan perasaan deg-degan dia mondar mandir ke sana ke mari seperti orang kebelet pipis, dengan perasaan tak karuan dia menunggu jawaban Asmah.

Yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang. “kring-kring,” bunyi SMS di Handphone-nya. Seperti kuda lepas dari tali kendali Mponggo berlari menyambar handphone-nya, karena tak sabar membaca jawaban Asmah. “Wa’alaikum salam….baik bang….oh ya…boleh…tapi ba’da isya’ ya…” demikian jawaban SMS Asmah. Tak terkirakan bahagianya Mponggo. Jantungnya seperti tersiram air es….adem, dan rasanya seperti berada di awang-awang, tidak terasa menginjak bumi lagi. “Begitukah perasaan orang yang sedang jatuh cinta?” dia bertanya pada hati kecilnya.

Waktu yang dia tunggu-tunggu, akhirnya tiba juga. Dengan pakaian perlente dia berjalan beberapa ratus meter menuju rumah Asmah, cewek yang dikaguminya selama ini. “Assalamu’alaikum,” ucapnya memecah kesunyian. Asmah yang sudah menunggu dari tadi menjawab “Wa’alaikumus salam.” Diserahkannya oleh-oleh bawaannya dari Mataram. “Ini sekedar oleh-oleh yang saya bawa dari Mataram kemarin. Mudah-mudahan dik suka,” ucapnya membuka percakapan. Merekapun terlibat dalam percakapan serius dan tak terasa waktu berlalu, sudah menunjukkan pukul 9:45. “Asmah boleh saya mengungkapkan isi hati saya?” Pintanya gugup “Ada apa bang,” Tanya Asmah pura-pura tidak tahu. “Anu….anu…nahu ne-e nggomi (saya cinta kamu).” Seperti disiram air es kepalanya, Asmah terkejut. Dan Asmah dengan ragu menjawab “Apa harus saya jawab malam ini?...atau beri saya waktu beberapa hari memikirkannya” pinta Asmah.

Pucuk dicinta, ulampun tiba….setelah beberapa hari menunggu, akhirnya Mponggo mendapatkan kepastian cintanya Asmah. Setelah sekian bulan saling mengisi hati kekasih hatinya, Mponggo memberanikan diri mengutarakan niatnya menikahi Asmah. Alhamdulillah Bapak Kepala Dusun, Ama So La Kala, Bapaknya Asmah merestuinya.

Mponggo menjadi Amaq Solar

Setelah waktu yang ditentukan, akhirnya Mponggo menikahi gadis pujaannya, seorang kembang Desa Runggu Puteri Kepala Dusun Oi Keke. Mereka duduk di pelaminan bak Raja dan Ratu satu malam. Malam itu, tamu undangan ramai sekali yang datang memberi ucapan selamat dan doa restu atas pernikahan Iksan (nama Islam dari Mponggo) dan Asmah.

Iksan alias Mponggo menyimpan ambisi untuk masa depan keluarganya. Dia ingin anak-anaknya menjadi orang-orang sukses seperti Bapak Muhammad Solar dan adik-adiknya di Mataram itu.

Oleh sebab itu, betapa bahagianya Iksan ketika mengetahui hasil USG bakal bayinya. Menurut dokter, bayinya berkelamin laki-laki. Dia sudah jauh-jauh hari mempersiapkan nama untuknya, yaitu: Muhammad Solar. Di Runggu, nama itu kedengarannya aneh. Orang pada tertawa mendengar nama itu. Merekapun bertanya “kenapa nama anakmu, kok aneh begitu Iksan?” “Ini bukan nama yang aneh…justru ini nama yang beken di Mataram. Dia adalah orang kaya raya…pengusaha sukses….pemilik mobil antik….dan pemilik SPBU di Mataram.” Jawab Mponggo …eh Iksan meyakinkan orang-orang. Dan…..sejak saat itu si Mponggo dari Desa Runggu itu mulai dipanggil Amaq Solar oleh orang kampung. 

Amaq Solar Menjadi Juragan BBM

Setelah kelahiran putra pertamanya, La Mponggo Alias Amaq Solar semakin rajin bekerja. Terinspirasi dari kisah perjalanannya di Mataram, dia melakukan hijrah karena Desa Runggu terlalu kecil untuk pengembangan usaha. Dia putuskan pindah ke Tente, karena tempat itu strategis dan menjadi pusat keramaian. Dia merasa tempat itu potensial untuk memulai usaha baru. Dia menyewa tempat di dekat terminal Tente untuk membuka usaha jual beli BBM. 

Karena keuletannya bekerja, usaha BBM-nya makin lama makin maju. Tanpa terasa sudah sepuluh tahun dia membina mahligai rumah tangga bersama Asma. Sekarang mereka sudah memiliki 4 orang putera. Mereka diberi nama sesuai inspirasinya ketika jalan-jalan ke Mataram belasan tahun lalu: M. Solar, M. Tanah, M. Premium dan M. Pertalite. La Mponggo Runggu yang lugu telah berubah menjadi pengusaha sukses. Sekarang, dia sukses menjadi juragan BBM di kawasan Kae (wilayah kecamatan Woha, Belo dan Monta-Bima). Dia menguasai suplai BBM di wilayah tersebut. 

Empat orang puteranya tumbuh menjadi remaja yang cerdas. Mereka mewarisi Bapaknya yang ulet berusaha dan selalu tekun belajar. Putera pertama berhasil menjadi dokter, alumni terbaik Fakultas Kedokteran Unram. Putera kedua juga mengikuti jejak kakaknya menjadi mahasiswa kedokteran di Unram. Putera ke tiga menjadi siswa teladan di SMAN Tente dan yang terakhir juga tidak kalah berprestasi di SDN 4 Tente.

Wallahu alam bissawab….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERI PEMBELAJARAN MENDALAM: FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

Pembelajaran Mendalam: Fusi Model Lama dengan yang Baru