PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) Bahasa Inggris

 


LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)* 

Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Teks Deskriptif dengan Bantuan Umpan Balik Guru 

di Kelas 7.2 SMP Negeri 7 Mataram Tahun Pelajaran 2014/2015

Nasrullah

SMP Negeri 7 Mataram

Abstract: This Classroom Action Research (CAR) was conducted in Junior High School (SMPN)  7 Mataram, year VII.2, in Academic Year 2014/2015. The aim was to analyze the improvement of the students’ participation in the teaching and learning process and their competence in composing descriptive text after the teacher’s feedback had been given. The research lasted in three cycles, each of which was conducted for two-three meetings, 90 minutes for each. The pre-steps were as follows: Preparation, the teacher prepared the syllabus, teachers’ notes and media. Explanation; the teacher explained the relevant  concept of the target language (nominal sentence and simple present tense), and the topics; Practice, students practiced composing descriptive text concerning their closest environment, such as their pets, family or often-visited places,  under guided feedbacks. The technical actions were as follows: Drafting, the students in pairs discussed in composing a draft of descriptive text, then the teacher provided feedbacks on it, then, they self-corrected their text; final step, the students’ text was then assessed by the teacher and filed as a portfolio. The result of observation of each cycle showed improvement. The students' participation in teaching and learning process showed to be 74,1 percent in the first cycle, 84,5 percent in the second cycle and 92,7 percent in the third one. The teacher’s readiness in teaching showed improvement as well, only 80 percent in the first cycle, improved to be 90 percent in the second cycle and 100 percent in third cycle one. The result of students’ composition and classical mastery on each cycle showed improvement too. In the first cycle, the average score of the composition was still 62,8 and classical mastery was 22,73 percent; in the second cycle, the average score improved to be 67,73 and the classical mastery improved to be 54,55 percent; and in the third cycle, the average score significantly raised to be  78,4 and the classical mastery raised to be  86,36 percent. In conclusion, the result indicated that the teacher’s feedbacks significantly enabled the students to improve the quality of their descriptive text and their participation improved as well.

 

Abstrak: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan di SMP Negeri 7 Mataram, Kelas VII.2 Tahun Pelajaran 2014/2015. PTK ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana dalam peningkatan partisipasi belajar siswa dalam proses KBM dan kemampuan mereka menulis teks deskriptif dan Bahasa Inggris setelah guru memberikan umpan balik (feedbacks). PTK berlangsung dalam kurun waktu 3(tiga) siklus yang mana masing-masing siklus berlangsung selama 2-3 kali pertemuan, dan setiap pertemuan membutuhkan waktu 90 menit. Langkah-langkah umum dalam PTK ini adalah Persiapan, guru menyiapkan silabus, RPP dan media. Penjelasan konsep, guru menjelaskan materi secara umum dan konsep kebahasaan yang relevan (missal: simple present tense dan kalimat nominal),  Tindakan, siswa bersama pasangannya menyusun teks deskriptif tentang lingkungan terdekat mereka seperti binatang piaraan, keluarga dan tempat yang sering dikunjungi  dibawah bimbing guru (guided practice). Di samping itu ada langkah-langkah teknis yang dilakukan pada tiap-tiap siklus, yaitu: drafting, siswa secara berpasangan menyusun draft teks deskriptif, kemudian diberi umpan balik oleh guru.; langkah terakhir, teks kemudian dinilai oleh guru dan diarsip sebagai bagian dari portofolio. Hasil pengamatan pada tiap siklus menunjukkan peningkatan. Partisipasi siswa pada siklus pertama adalah 74,1 persen, meningkat menjadi 84,5 persen pada siklus ke dua dan meningkat menjadi 92,7 persen pada siklus ke tiga. Kesiapan guru dalam KBM juga menunjukkan peningkatan. Kalau pada siklus pertama, kesiapan guru masih 80 persen, pada siklus ke dua meningkat menjadi 90 persen dan pada siklus ke tiga meningkat lagi menjadi 100 persen. Kwalitas teks deskriptif dan ketuntasan klasikal juga menunjukkan trend peningkatan. Pada siklus pertama, skor rata-rata  tulisan siswa masih bertengger pada 62,8 dan ketuntasan klasikal pada 22,73 persen; pada siklus ke dua, skor rata-rata meningkat menjadi 67,73 dan ketuntasan klasikal menjadi 54,55 persen; dan pada siklus ke tiga nilai rata-rata telah meningkat drastis menjadi  78,4 dan ketuntasan klasikal meningkat secara signifikan menjadi  86,36 persen. Dapat disimpulkan bahwa umpan balik guru berperan membantu meningkatkan kwalitas teks deskriptif dan partisipasi belajar siswa secara signifikan.


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sasaran utama pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs) adalah mengembangkan kemampuan siswa mencapai kompetensi fungsional. Yang dimaksud dengan kompetensi fungsional adalah bahwa siswa mampu menggunakan Bahasa Target (dalam hal ini Bahasa Inggris) untuk keperluan sehari-hari, misalnya: membaca manual, berkenalan (introducing), saling menyapa (greeting), berterima kasih (thanking), menyetujui-menolak (agreement/disagreement) dan/atau mengkomunikasikan gagasan sederhana lainnya (Depdiknas: 2004).

 Hal-hal tersebut di atas diistilahkan sebagai life skill. Siswa mampu berbahasa Inggris sesuai kebutuhan komunikasi mereka sehari-hari. Dalam komunikasi tertulis, siswa diharapkan bisa membaca manual, membaca buku-buku cerita sederhana, menulis buku harian menulis surat pribadi, menulis untuk mendeskripsikan hal-hal sederhana dan lain-lain (Agustien, dkk, 2004).

Kompetensi yang dikemukakan di atas sejalan dengan Model kompetensi yang dikemukakan oleh Celce-Murcia, dkk (1995). Pada hakekatnya kompetensi yang harus dicapai oleh siswa adalah kemampuan berwacana, dalam hal ini memahami dan menciptakan wacana (Discourse Competence). Wacana dalam hal ini diartikan sebagai teks, baik tulis maupun lisan dalam konteks bermakna yang dipengaruhi oleh situasi dan budaya yang terkait lingkungan terdekat siswa.

Kompetensi yang diharapkan dicapai siswa Kelas 7 SMP adalah kompetensi yang mencakup teks fungsional sederhana (seperti: shopping list, notice, label, dan lain sebagainya), transactional-interpersonal dialogue, procedure text dan descriptive text sangat sederhana. Dalam hal mendeskripsikan hal-hal sederhana, siswa kelas 7 SMP diharapkan untuk mampu menyusun teks deskriptif sangat sederhana tentang lingkungan terdekatnya. Mereka diharapkan misalnya untuk mendeskripsikan seseorang dalam keluarga mereka atau seorang tokoh yang mereka idolakan. Mereka boleh juga mendeskripsikan seekor binatang piaraan, misalnya: seekor burung, ayam, kucing, anjing, kelinci dan sebagainya. Atau, mereka juga diperbolehkan memilih tempat yang sering mereka kunjungi di waktu libur atau di waktu luang, misalnya, tempat-tempat wisata, seperti gunung, pantai, taman untuk dideskripsikan.

Kenyataan menunjukkan bahwa siswa SMP kelas 7 menghadapi banyak masalah ketika mereka diharapkan untuk menyusun teks deskritif sangat sederhana. Mereka kesulitan mendeskripsikan, walaupun hanya, lingkungan terdekat mereka dalam Bahasa sangat sederhana. Misalnya, ketika mereka diminta untuk menulis atau mendeskripsikan seseorang dalam keluarga atau bintang piaraan, umumnya mereka mengalami kendala mengembangkan gagasan menggunakan Bahasa Target. Walaupun sebagian dari mereka sudah memiliki perbendaharaan kata (vocabulary) Bahasa Target, karena telah mempelajari Bahasa Target sejak di SD, namun mereka belum mampu menformulasikannya menjadi kalimat yang runtun dalam bentuk paragraf sederhana. Tampaknya mereka sulit memahami beberapa konsep Bahasa Target.

Menurut hasil prasurvey, siswa mengalami kesulitan memahami tata bahasa dalam Bahasa Target (English grammar). Sebagian besar mereka belum mampu menyusun kalimat nominal (nominal sentence) sederhana, atau kalimat bentuk waktu sekarang (present tense). Kemampuan memahami dua jenis kalimat tersebut sangat diperlukan oleh siswa untuk menyusun teks deskriptif karena pembelajar pemula (young learner) memerlukan kompetensi kebahasaan tersebut ketika mendeskripsikan hal-hal sederhana.

Selain kompetensi kebahasaan, masalah lain yang mereka hadapi adalah rendahnya motivasi. Sebagai contoh, siswa-siswi kelas 7.2 yang menjadi subyek penelitian ini kurang termotivasi dalam belajar Bahasa target. Partisipasi mereka dalam proses belajar mengajar rendah sekali. Walaupun sebagian besar dari mereka telah mempelajari Bahasa Target sejak di bangku SD, mereka masih menganggap Bahasa Target sebagai sesuatu yang asing.

Faktor lain yang cukup menonjol adalah mereka kesulitan belajar atau mengerjakan tugas secara mandiri. Setiap kali diberikan tugas mandiri sebagian besar dari mereka gagal mengerjakannya. Oleh sebab itu mereka perlu membentuk komunitas kecil ketika belajar Bahasa Target. Dengan demikian, satu sama lain akan saling mendukung sehingga dapat meminimalisir kegagalan mereka.

Untuk mengatasi masalah diatas, diperlukan langkah-langkah sistematik, terstruktur dan berkesinambungan. Langkah pertama adalah terkait dengan problem kebahasaan. Guru,  tentu saja, perlu menjelaskan secara komprehensif tentang kalimat nominal dan kalimat bentuk sekarang (simple present tense) dan tata bahasa yang mereka perlukan ketika menyusun teks deskriptif. Hal ini diperlukan agar membantu mereka memahami konsep-konsep bahasa target yang mereka butuhkan ketika menyusun teks descriptif. Setelah mereka cukup memahami konsep-konsep kebahasaan lalu dilanjutkan dengan latihan-latihan (practice) membuat kalimat, dan menyusun teks dengan berpasangan. Hal ini diperlukan agar mereka tidak terlalu kesulitan dalam mendeskripsikan ide-ide mereka dan mereka memerlukan teman untuk saling membagi kesulitan. Seperti dikatakan Harmer (2007) siswa memerlukan sebuah komunitas (learning community) ketika sedang belajar bahasa kedua atau bahasa asing.

Langkah berikutnya adalah dengan memberikan umpan balik (feedback). Yang dimaksud dengan feedback adalah umpan balik yang diberikan oleh guru berupa koreksi tertulis yang bertujuan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan siswa (Rahmawati: 2012). Menurut Huang (2011) pemerolehan Bahasa ke dua atau bahasa asing adalah semacam usaha coba-coba dan membuat kesalahan (trial and error). Umpan balik guru membantu siswa untuk meminimalisir kesalahan mereka.

 Dengan demikian, umpan balik guru sangat diperlukan oleh siswa agar mereka bisa menyusun teks secara terbimbing dan berkembang sesuai harapan. Selain itu, umpan balik guru juga membantu siswa agar bisa melakukan koreksi sendiri (self-correction) pada teks yang mereka susun.

Seorang guru harus memperhatikan teknik yang benar ketika memberikan umpan balik agar siswa bisa mengambil manfaat (take advantage) dari umpan balik tersebut (Brown, 2007). Sebaliknya, umpan balik yang tidak sesuai bisa berdampak buruk pada siswa. Seperti dikemukakan oleh Rahmawati (2012) bahwa umpan balik yang salah (improper feedbacks) bisa kontraproduktif bagi siswa. Umpan balik tersebut malah menimbulkan frustrasi bagi siswa, dan bahkan umpan balik bisa mengakibatkan kwalitas teks yang disusun siswa makin memburuk (Szynalski: 2012).

B.     Permasalahan

    Walaupun siswa SMP kelas 7 telah dibekali pembelajaran Bahasa Inggris sejak di bangku Sekolah Dasar (SD), fakta menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka belum bisa menulis hal-hal sederhana tentang lingkungan terdekat mereka. Pekerjaan menulis dalam Bahasa Inggris masih merupakan pekerjaan yang terlalu sulit (over-challenging) bagi mereka. Seperti dikemukakan di atas, kurangnya kemampuan siswa SMP mendeskripsikan hal-hal sederhana tentang lingkungan terdekat mereka juga dikarenakan keterbatasan mereka dalam memahami konsep-kosep dasar bahasa target. Selain itu, mereka juga memerlukan teman sebaya sebagai komunitas belajarnya. Untuk itu, seorang guru Bahasa Inggris harus selalu berinovasi dan mencari teknik yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Pada konteks ini, selain memperkenalkan konsep-konsep kebahasaan tentang bahasa target, guru berusaha membantu dengan memberikan umpan balik (feedbacks) yang tepat, sistematis dan berkesinambungan agar siswa terbimbing dengan baik tatkala mereka sedang menyusun descriptive text. Dan, mereka tidak dibiarkan mengerjakan tugas sendirian, tetapi perlu dikelompokkan, atau paling tidak dipasangkan dengan teman sebangkunya ketika mengerjakan tugas tersebut.

Dengan demikian, maka masalah penelitian ini adalah:

1.Sejauhmana umpan balik guru berpengaruh dalam peningkatan partisipasi belajar Bahasa Inggris siswa?

2.Sejauhmana umpan balik guru berpengaruh dalam peningkatan kwalitas teks deskriptif siswa?

Cara pemecahan permasalahan adalah dengan melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :

  1. mempersiapkan bahan dan alat kelengkapan mengajar, misalnya silabus, program tahunan, program semester, kalender pendidikan, RPP dan alat evaluasi pembelajaran.
  2. memperkenalkan dan menjelaskan jenis teks (yaitu descriptive text), topic, seperti mendeskripsikan seseorang terdekat, seekor binatang piaraan atau suatu tempat favorit.
  3. memberikan penjelasan tentang konsep kebahasaan yang relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk menyusun descriptive text, antara lain kalimat nominal (nominal sentence) dan kalimat waktu sekarang (simple present tense).
  4. mencontohkan model teks (modeling of the text) yang berterima dalam Bahasa Inggris. Kemudian menjelaskan struktur generik (generic structure) daripada descriptive text, dan ciri kebahasaan (linguistic features) lain yang mereka perlukan untuk menyusun descriptive text tersebut.
  5. membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri dari 2 (dua) atau 3 (orang) orang dengan mengadakan lot. Lalu, mengarahkan mereka akan hal dan langkah-langkah kerja yang mereka perlu lakukan.
  6. membimbing siswa dalam menyusun teks; mengingatkan urutan teks (generic structure) yang terdiri dari: identification, description dan conclusion.
  7. Setelah mereka menghasilkan draft, guru memberikan umpan balik: menandai, memberi kode, menggarisbawahi bagian-bagian yang salah. Lalu mereka diberikan kesempatan untuk melakukan self-correction dalam rangka memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka.
  8. melakukan penilaian berkelanjutan (berupa penilaian portofolio) hasil karya teks deskriptif siswa.
  9. melakukan refleksi diri, di mana siswa merefleksi kembali kekurangan dan kelebihan mereka berdasarkan portofolio mereka, dan diharapkan mereka dapat mengambil pelajaran dari hal-hal tersebut.
  10. mengumpulkan dan mendokumentasi hasil portofolio siswa.

Demikianlah langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka pemecahan masalah penelitian tindakan ini.

C.    Hipotesis Tindakan

   Hipotesis adalah dugaan sementara terhadap suatu penelitian. Hipotesis adalah dugaan yang harus dibuktikan kebenarannya dalam penelitian. Menurut Sujana (2010) hipotesis PTK berbeda dengan hiptesis penelitian formal. Dalam PTK, solusi yang diambil akan selalu dapat dipecahkan.

Adapun  rumusan Hipotesis tindakan dalam penelitian ini yaitu : "Jika guru memberikan umpan balik yang tepat dan sesuai maka partisipasi siswa dalam pembelajaran dan kwalitas teks deskriptif Bahasa Inggris siswa akan meningkat."

D.    Tujuan Penelitian

Berangkat dari permasalahan kurangnya kemampuan siswa menghasilkan teks-teks dalam Bahasa Inggris yang berterima, maka perlu dicarikan terobosan-terobosan dalam rangka mengatasi hal itu. Salah satunya yaitu dengan penelitian tindakan kelas seperti ini.

Adapun tujuan penelitian ini yaitu :

1.Mengetahui sejauhmana pengaruh umpan balik guru terhadap meningkatan partisipasi belajar siswa dalam bahasa Inggris.

2.Mengetahui sejauhmana pengaruh umpan balik guru terhada[p peningkatan kwalitas  teks deskriptif siswa.

E.     Kontribusi Penelitian

     Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini diharapkan dapat memberikan  kontribusi positif bagi semua komponen yang terlibat dalam usaha-usaha peningkatan mutu pendidikan, baik guru, siswa, sekolah maupun lembaga pendidikan terkait, serta pemerintah sebagai pengambil kebijakan tentunya.

Dengan demikian, hasil dari PTK ini, diharapkan  akan memberikan kontribusi yang berarti bagi :

a. Bagi guru : Dengan melaksanakan PTK  ini , diharapkan guru dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi,  yang bermuara pada peningkatan kwalitas proses dan partisipasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

b. Bagi siswa : Hasil PTK ini sangat bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan kompetensi menulis  teks deskriptif mereka.

c. Bagi sekolah : Hasil PTK ini dapat memberikan masukan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan mutu pembelajaran  Bahasa Inggris secara umum.

F.    Variabel Penelitian

Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu: variabel harapan dan variabel tindakan. Variabel harapan adalah sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian sedang variabel tindakan adalah usaha yang dilakukan untuk mencapai sasaran. Yang menjadi variabel harapan dalam Penelitian ini adalah kemampuan menulis teks deskriptif sedangkan yang menjadi variabel tindakan adalah umpan balik tertulis yang guru berikan dalam teks deskriptif siswa.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.     Tinjauan Pustaka

Bagian ini membahas teori-teori yang relevan dan mendasari tulisan ini. Teori-teori yang dimaksud merupakan hasil-hasil penelitian terdahulu dan hasil olah pikir para ahli Bahasa (linguist) dan ilmuwan terkait yang menjadi rujukan dan sumber referensi tulisan ini.

1.     Pembelajaran Menulis

Sejak diberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, pembelajaran Bahasa Inggris di SMP mencakup pembelajaran berbasis wacana (text-based learning). Pembelajaran menulis bagi siswa SMP menjadi penting, karena siswa harus menghasilkan (memproduksi) wacana, baik lisan maupun tertulis (Depdiknas: 2004). Namun demikian, fakta di kelas menunjukkan bahwa menulis merupakan salah satu skill yang sulit dipelajari siswa SMP. Seperti dikemukakan oleh Harmer (2007) bahwa menulis merupakan  keterampilan yang paling sulit dilakukan oleh pembelajar Bahasa. Siswa sering kali menghadapi aktivitas menulis sebagai kegiatan yang terlalu sulit (over challenging). Alasan lain menurut Elbow (2000), karena aktivitas menulis tidaklah sesering aktivitas berbicara. Orang (siswa) bisa berbicara kapan dan di mana saja. Namun, aktivitas menulis memiliki momentum dan domain yang terbatas. Aktivitas tersebut hanya dilakukan siswa pada saat proses belajar mengajar di dalam kelas.

Menurut Harmer (1998) alasan pembelajaran menulis pada siswa yang sedang belajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing maupun Bahasa ke dua mencakup: penguatan (reinforcement), pengembangan kemampuan berbahasa (language development), gaya belajar (learning style) dan yang paling penting adalah menulis sebagai sebuah keterampilan. Penguatan dalam hal ini merupakan cara siswa mendapatkan cara di mana Bahasa Target dikonstruksi supaya mudah dipahami dan gampang diingat. Sedangkan pengembangan kemampuan berbahasa maksudnya adalah proses actual dari pembelajaran menulis yang dapat membantu siswa sehingga pekerjaan itu tidak sulit lagi dan mudah dihadapi.  Dalam hal ini, masih menurut Harmer (1998) aktivitas mental tatkala menulis penting diperhatikan untuk dilatih sebagai bagian dari pengalaman belajar yang ongoing (berjalan apa adanya).

 Gaya belajar, pada konteks ini, maksudnya adalah bagaimana  siswa menghadapi aktivitas menulis itu sendiri. Dengan demikian, guru pada gilirannya bisa membedakan mana siswa yang lamban (slow), biasa-biasa saja (average) dan cepat/pintar (quick). Menulis sebagai sebuah keterampialn merupakan alasan yang paling penting dalam pembelajaran menulis. Pembelajar perlu memahami keterampilan-keterampilan, misalnya: bagaimana cara menulis surat, teks procedure, teks descriptif dan sebagainya.

Dengan memahami menulis sebagai suatu keterampilan, guru juga akhirnya mempelajari cara atau teknik yang tepat dalam pengajaran menulis. Langkah yang guru gunakan tergantung sungguh pada jenis teks yang sedang diajarkan dan ditulis oleh siswa. Masing-masing teks memiliki struktur generik (generic structure) yang berbeda-beda. Dengan demikian, guru harus mengingatkan siswa akan pentingnya struktur generik dari pada sebuah teks karena hal itu merupakan guideline bagi mereka ketika menyusun sistematika dari pada teks dan menjadi pembeda antara teks yang satu dengan yang lainnya. Tabel berikut menampilkan data yang detail tentang  generic structures dari pada teks.

Tabel: Teks dan Struktur Generiknya (Depdiknas, 2004)

No

Jenis Teks

Generic Structure

1

Procedure

Title – Tool – Material/ingredients –Steps/procedure

2

Descriptive

Identification – Description (misalnya tentang fisik, ciri khas, warna, dan sebagainya)

3

Recount

Orientation – Series of events – Re-orientation

4

Narrative

Orientation – Complication – Resolution – Coda (pilihan)

5

Report

General classification – Description (misalnya tentang fisik, ciri khas, warna, dan sebagainya)


Tabel di atas menunjukkan generic structures dari pada teks yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian, kalau siswa sedang mendeskripsikan sesuatu (menulis descriptive text), misalnya, mereka harus memperhatikan generic structure yang mencakup: identification dan description.

Yang dimaksud dengan identification adalah awal dari pada teks deskriptif. Pada paragraph awal, siswa mengidentifikasi obyek dengan menuliskan identitas, misalnya: nama, umur, atau alamat dari pada obyek. Dengan demikian, ketika orang membaca teks tersebut, pembaca akan paham bahwa obyek yang ditulis adalah sesuatu yang khusus (specific). Pada paragraph ke dua dan selanjutnya, siswa mendeskripsikan obyek yang maksud, misalnya mendeskripsikan ciri khas, sifat, karakter, kebiasaan, warna dan lain-lain. Hal inilah yang membedakan antara teks deskriptif dengan teks-teks lain karena teks ini membahas sebuah obyek secara khusus, bukan obyek secara umum.

2.     Umpan Balik Guru

Pada pembelajaran Bahasa ke dua (Second Language Acquisition) umpan balik guru sudah dikenal sejak lama. Banyak ahli Bahasa dan ahli Pendidikan yang menaruh perhatian pada umpan balik guru. Ferris (2005), misalnya, menyatakan bahwa umpan balik guru sangat penting untuk membantu siswa melakukan koreksi diri (self-correction) pada tulisan mereka. Purnawarman (2011) meneliti efektivitas umpan balik guru terhadap menurunnya kesalahan tata bahasa siswa dalam menulis Bahasa Inggris. Ternyata hasilnya, menurut dia, cukup efektif.

Umpan balik guru merupakan hal yang sangat penting dalam proses menulis siswa. Tanpa umpan balik yang memadai, perkembangan menulis siswa tidak akan terjadi. Seorang guru harus membantu siswa mengembangkan strategi untuk melakukan koreksi diri pada kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan dalam teks mereka (Myles, 2012). Itulah fungsi sentral dari pada umpan balik guru.

 Ada banyak cara yang dilakukan oleh guru untuk membantu siswa mengoreksi sendiri teks mereka. Dalam hal ini, guru harus paham betul teknik yang tepat ketika memberikan umpan balik, sebab kalau tidak, seperti dikemukakan oleh Szynalski (2012) di atas, bisa kontraproduktif bagi siswa. 

Menurut Huang, pembelajaran Bahasa merupakan usaha trial dan error. Kadangkala, umpan balik guru bisa berdampak buruk bagi siswa sehingga berakhir pada kegagalan siswa karena siswa mengalami frustasi. Namun demikian, masih menurut Huang, jika umpan balik guru sesuai dengan kebutuhan siswa maka mereka akan mencapai tujuan yang diharapkan (sukses).

Dalam hal berhasil atau tidaknya umpan balik guru, menurut  Cohen & Robbins (dalam Ferris, 2005), tergantung sungguh pada akurasi, kelengkapan dan  kekhususan (idiosyncratic) dari pada umpan balik tersebut. Oleh sebab itu, agar umpan balik guru bermanfaat bagi siswa,  Ferris (2005) menawarkan saran sebagai berikut:.

1.      Pilihlah penanda kesalahan (errors mark) yang bisa mengoreksi secara komprehensif dan selektif. Hal ini mencakup 3 tahap:

·   Tahap 1: memahami jenis kesalahan yang umumnya dilakukan oleh pembelajar pemula.

· Tahap 2: memahami kenyataan bahwa masing-masing siswa melakukan kesalahan yang berbeda-beda.

·  Tahap 3: memahami akan kebutuhan pemberian umpan balik yang utama pada masing-masing individu.

2.      Bagaimana seharusnya guru memberi umpan balik. Ada beberapa opsi yang bisa dijadikan pilihan:

·   Opsi 1: apakah memilih umpan balik langsung atau tak langsung

·   Opsi 2: apakah memntukan lokasi kesalahan atau mengidentifikasi kesalahan.

·   Opsi3: apakah memberi umpan balik untuk kesalahan besar atau kecil.

·   Option 4: apakah umpan balik yang berupa simbol atau komentar

·   Option 5: apakah koreksi berupa tekstual atau  end notes.

3.      Saran-saran yang perlu diperhatikan supaya proses pemberian umpan balik menjadi efektif, efisien dan memuaskan, atara lain:

·   Berikan penilaian sesuai tngkat kemampuan dan pemahaman siswa dan gunakan strategi pemberian umpan balik yang benar.

·   Tentukan tujuan yang realisits pada saat pemberian umpan balik.

·   Sebaiknya gunakan umpan balik tak langsung (indirect feedback) dan lebih fokus pada lokasi kesalahan dari pada identifikasi kesalahan.

Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan yaitu seiring waktu berjalan mengikuti proses, umpan balik guru seyogyanya makin lama makin berkurang. Dan siswa harus dibantu untuk belajar bertanggung jawab pada kemajuan mereka sendiri.

Demikianlah hal-hal yang penting diperhatikan pada saat guru memberikan umpan balik pada kesalahan yang dilakukan siswa ketika mereka sedang menyusun teks deskriptif.

4.     Teknik menilai Tulisan atau Karangan Siswa

Teknik menilai karangan siswa merupakan hal yang penting diperhatikan seorang guru. Hal ini bermaksud agar memotivasi siswa, karena siswa yang telah bekerja dengan baik mereka tentu akan mengharapkan penghargaan atau pujian berupa nilai yang bagus dari guru. Teknik menilai yang salah bisa berdampak kurang baik bagi siswa, dan bahkan bisa mematikan motivasi mereka. Oleh sebab itu guru perlu menaruh perhatian yang serius dan bertindak adil ketika menilai pekerjaan  siswa. Dalam rangka menilai karangan atau tulisan siswa, Brown (2004) menyarankan sebuah skala penilaian (coring scale) seperti pada tabel 2.2 di bawah ini.

Table Skala Penilaian (Scoring Scale)

2

Tata bahasa (grammar) dan kosa kata (lexicon) benar.

1

Salah satu tata bahasa atau kosa kata salah

0

Baik tata bahasa maupun kosa kata salah


Kalau tata bahasa dan leksikon (kosa kata) benar, maka siswa diberi skor 2. Namun,  bila salah satu dari tata bahasa atau kosa kata yang benar maka hanya diberi skor 1. Kalau tata bahasa dan kosa kata salah maka diberi skor 0.  Namun teknik Brown tampaknya terlalu sederhana, masih perlu dikombinasi dengan teknik lain.

Teknik menulis model lain adalah seperti yang disarankan Heaton (1990) yang bisa dijadikan tuntunan (guideline) dalam memberi skor atau penilaian terhadap tulisan siswa. Heaton memberi nilai tulisan siswa dalam enam tingkatan atau kategori seperti yang ditampilkan pada tabel  di bawah ini. 

Table: Petunjuk Penilaian (Scoring Guide) dalam menulis (Heaton, 1990)

20 – 18

Sempurna (Excellent)

Bahasa Inggris yang alami, kesalahan sedikit sekali. Merealisasi semua tugas yang diberikan dengan lengkap.

16 – 17

Baik sekali (Very good)

Kosa kata dan struktur yang baik. Level kompetensi di atas tingkat sederhana. Kesalahan yang  non-basic.

12 – 15  

Baik

(Good)

Sederhana tetapi realisasi tugas akurat . cukup alamiah, tidak banyak kesalahan.

8 – 11

Lulus

(Pass)

Benar (masuk akal) tapi janggal ATAU perbaikan alamiah pada subyek dengan beberapa kesalahan serius.

5 – 7

Kurang

(Weak)

Kosa kata dan tata bahasa kurang dari yang diharapkan.

0 – 4

Kurang sekali

(Very poor)

Inkoheren. Kesalahan menunjukkan kekurang pahaman mendasar dalam Bahasa Inggris.


Penilaian Heaton bisa dimodifikasi menurut kondisi sekolah dan kebutuhan guru.  Misalnya, penilaian dengan skala 100, modifikasinya adalah sebagai berikut:

·         excellent equivalen dengan  100 – 90

·         very good equivalen dengan  89 – 80

·         good equivalen dengan  79 – 60

·         pass equivalen dengan 59 – 40

·         weak equivalen dengan 39 – 25

·         very poor  equivalen dengan < 25

Teknik penyekoran yang diadopsi dalam PTK ini merupakan kombinasi dari dua pendapat ahli di atas. Namun demikian, teknik tersebut disesuaikan dengan kondisi SMPN 7 Mataram. Artinya bahwa, penilaian berpatokan pada indikator kinerja (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM) yang berlaku di sekolah setempat, yaitu 75 untuk pelajaran Bahasa Inggris. Rinciannya adalah sebagai berikut:

·         excellent equivalen dengan  100 – 95

·         very good equivalen dengan  94 – 85

·         good equivalen dengan  84 – 80

·         pass (okay) equivalen dengan 79 – 75

·         weak (lack) equivalen dengan  < 75

Jadi, untuk konteks pembelajaran Bahasa Inggris di kelas 7 SMPN 7 Mataram, skor penilaian terdiri dari lima level seperti di atas.

B.    Penjelasan Istilah

1.  Umpan Balik (Feedback)

Yang dimaksud dengan Umpan Balik atau Feedback adalah koreksi tertulis guru pada teks yang sedang disusun siswa. Umpan balik bermaksud membantu siswa meningkatkan kwalitas teks yang mereka susun.

2.  Teks Deskriptif (Descriptive Text)

Yang dimaksud dengan teks deskriptif adalah teks yang menggambarkan sebuah obyek (misalnya: seseorang, seekor binatang atau suatu tempat) secara khusus dengan mengidentifikasi, misalnya: nama, alamat atau identitas lainnya, lalu mendeskripsikan, misalnya: sifat, ciri khas, warna dan sebagainya daripada obyek tersebut (Depdiknas, 2004).

3.  Partisipasi

Yang dimaksud dengan partisipasi adalah keikutsertaan siswa dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Pada konteks ini, partisipasi didefenisi sebagai kegiatan siswa dalam menyusun teks deskriptif dan aktivitas terkait dalam proses belajar mengajar.


DAFTAR PUSTAKA

Agustien, H.I.R, Dkk. (2004). Sistimatika Kurikulum Bahasa Inggris 2004 dan Pengembangan Silabus. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Brown, D. H. (2004). Language Assessment Principles and Classroom Practices. New York: Longman.

Brown, D. H. (2007). Principles of Language Learning and Teaching (5th ed.). San Francisco: Pearson Education, Inc.

Burns, Anne. (2010). Doing Action Research in English Language Teaching; A Guide for Practitioners. New York: Rotledge

Celce-Murcia, M.,Z.Dornyei, S. Thurrell 1995. Communicative Competence: A Pedagogically Motivated Model with Content Specifications. In Issues in Applied Linguistics.

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Elbow, Peter, 2000. Everyone can Write: Essays Toward a Hopeful Theory of Writing and Teaching Writing. Oxford: Oxford University Press.

Ferris, D. R. (2005). Treatment of Error in Second Language Student Writing. Michigan: The University of Michigan Press.

Harmer, J. (1998). How to Teach English; an Introduction to the Practice of English Language Teaching. Essex: Longman.

Harmer, J. (2007). The Practice of English Language Teaching. Cambridge: Pearson Longman.

Heaton, J. B. (1990). Writing English Language Tests. New York: Longman.

Huang, J. (2011). Error Analysis on English Language Teaching. Journal of Language Teaching and Research, 2, 19-34.

Myles, Johanne. (2012). Second Language Writing and Research: The Writing Process and Error Analysis in Student Texts (http://www.cc.kyoto-su.ac.jp/information/tesl-ej/ej22/a1.html)

Purnawarman, P. (2011). Impacts of Teacher Feedback on ESL/EFL Students’ Writing (Dissertation). Doctor Degree, the Virginia Polytechnic Institute and State University, Blacksburg, VA.  

Rahmawati, E. (2013). Teacher's Written Corrective Feedback and Its Effects on the Students' Rewriting Errors in Writing Products (a Thesis). Master Degree, Universitas Negeri Surabaya.  

Sujana, I Made (2010). Workshop Penelitian Tindakan Kelas. Mataram: Arga Puji Press.

Susanto. (2010). Konsep Penelitian Tindakan Kelas dan Penerapannya. Surabaya: Lembaga Penerbitan UNESA.

Szynalski, T. P. (2012). The Role of Mistakes in Language Learning  Retrieved 7 November, 2012, from http://www.antimoon.com/how/mistakes-in-learning.htm

    *Bagi yang berminat laporan lengkap, silahkan email ke: panashur@yahoo.com        

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SERI PEMBELAJARAN MENDALAM: FIXED MINDSET VS GROWTH MINDSET

Pembelajaran Mendalam: Fusi Model Lama dengan yang Baru